This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

RADIO KITA

Mengenai radio dem

AIR HAJI, SUMATERA BARAT, Indonesia
KAMI ADALAH RADIO DAKWAH

Minggu, 02 Februari 2025

Perisai Diri

Khutbah Pertama إن الحمد لله نحمده و نستعيده ونستغفره ونتوب اليه ونستهديه نسلم ونسلم على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ أما بعد عباد الله أوصيكم وإياي نفسي بتقوى الله وطاعته فقد فاز المتقون Sidang Jum’at rahimani wa rahimakumullah, Mari kita senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa mencurahkan rahmat, nikmat, anugerah, dan kasih sayang melebihi apa yang orang tua berikan untuk kita. Suatu ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di hadapan para sahabat dan ada seorang wanita yang sedang menggendong bayinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا “Sungguh Allah lebih mencintai hamba-hamba-Nya dari pada cinta wanita ini terhadap anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Shalawat dan salam kepada Nabi kita tercinta Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah memberikan kepada kita semua panduan yang kita butuhkan dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan dan haramkan, dan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai dan tidak Dia ridhai. Agar kita berjalan di atas hal yang Dia ridhai dan agar kita menjauhkan diri kita dari apa yang Dia murkai. Dan untuk itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menciptakan kita hanya untuk beribadah. (وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ) [Surat Adz-Dzariyat 56] Dan ibadah adalah; فعل المأمور وترك المحظور “Mengerjakan yang diperintah dan meninggalkan yang dilarang.” Dengan ibadah tersebut kita berharap agar mengampuni dosa dosa Kita.Dan kita berharap ini akan menjadi perisai diri kita dari nerakà Allah. Apa yang harus dilakukan agar Allah Memberikan perisai kepada Kita?? Pertama; Allah memuji Bagi orang yang mengikuti Sunnah Rasulullah berpegang teguh dengan Sunnah tersebut Allah juga berjanji akan mencintai orang tersebut dan mengampuni dosa orang yang mengikuti Rasulullah,Karna kecintaan kita kepada Allah dan pengikutan kita kepada Rasulullah، dan pengampunan dosa dari Allah adalah perisai diri kita dari neraka Allah. sebagai mana firman Allah: (قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِی یُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu." [Surat Ali 'Imran 31]. Dari ayat ini Dapatlah kita simpulkan bahwa kecintaan Allah bisa kita dapatkan dengan mengikuti Rasulullah dan mendapatkan pengampunan dosa dari Allah , dan ini adalah salah satu perisai dari neraka Allah. Dan ini hanya bisa didapatkan apabila kita mengikuti Rasulullah, bukan mengikuti jalan yang banyak yang dibuat oleh manusia . Memang banyak jalan menuju Roma akan tetapi hanya ada satu jalan menuju surga Allah yaitu jalan yang dibuat oleh Rasulullah. Karna jalan jalan tersebut banyak seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah,dalam sebuah hadits yang sanadnya di shohih kan Syaikh Albani : وإن هذه الأمةَ ستفترقُ على ثلاثٍ وسبعينَ ملةٍ ، يعني الأهواءَ ، كلُّها في النارِ ، إلا واحدةٌ ، وهي الجماعةُ Siapa itu al-Jama'ah ? Kata Rasulullah: ما أنا عليه واصحابي Kedua; Allah juga memuji orang yang berpuasa dimana Puasa akan menjadi perisai yang menghalangi dari siksa api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ما من عبد يصوم يوما في سبيل الله إلا باعد الله بذالك وجهه عن النار سبعين خريفا “Tidaklah seorang hamba yang berpuasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim” (H.R. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda, قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ : الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ، وَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ “Rabb kita ‘azza wa jalla berfirman, Puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba memberikan perisai pada dirinya dari api neraka, dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya” (H.R. Ahmad, shahih). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ ”Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka” (H.R. Ahmad, shahih) Ketiga, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memuji orang-orang yang meninggalkan maksiat dan semua yang Dia haramkan. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji kepada mereka untuk memasukkan mereka ke surga-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman; إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (QS. An-Nisa'[4]: 31) Lihat, di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan, memberitakan, sekaligus memerintahkan bahwa orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosanya yang lain. Di sini para ulama mengatakan bahwa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ampuni adalah dosa-dosa kecil yang kita kerjakan. Karena manusia tidak akan bisa lepas dari dosa-dosa kecil kecuali para Nabi dan Rasul. Dan ada khilaf di kalangan para ulama. Apakah para Nabi dan Rasul juga terpelihara dari dosa kecil atau tidak. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa para Nabi dan Rasul itu terjaga dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga mereka dari dosa-dosa kecil. Apatah lagi dengan dosa-dosa besar. Ada pun selain para Nabi dan Rasul, tidak akan ada yang terjaga dari dosa-dosa kecil. Dan dosa-dosa kecil jauh lebih banyak dari pada dosa-dosa besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan, إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil)” Ma’asyiral muslimin, Untuk apa kita harus menjauhi dosa-dosa besar? Untuk apa kita harus menjauhi hal-hal yang Allah Subhanahu wa Ta’ala larang? Karena itu adalah perisai kita untuk tidak sampai ke neraka. Menjauhi dosa-dosa adalah satu-satunya usaha yang luar biasa untuk membuat perisai perlindungan kita dari neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan di dalam banyak ayat di Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk menghindar dan menjauhkan diri kita dari neraka. Dan apa yang akan memasukkan kita ke dalam neraka apabila kita banyak melakukan pelanggaran-pelanggaran. Apatah lagi jika dosa maksiat yang kita lakukan adalah yang paling besar yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu syirik, kufur, dan nifaq. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman; يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..” (QS. At-Tahrim[66]: 6) Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggil orang-orang yang beriman. Berkata Abu ‘Umar bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, إذا سمعت الله يقول: “يا أيها الذين آمنوا” فأرعها سمعك؛ فإنه خير يأمر به، أو شر ينهى عنه “Jika Anda mendengar Allah mengatakan (يا أيها الذين آمنوا, – wahai orang-orang yang beriman) maka fokuskan pendengaran Anda. Karena sesungguhnya (setelah itu) ada kebaikan yang akan diperintahkan atau keburukan yang akan dilarang-Nya” (H.R Bukhari dan Muslim)[1] Jamaah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim[66]: 6) Sangat jelas di dalam ayat ini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita untuk membentengi diri kita dari neraka. Dengan cara menjauhi maksiat. Mana kala dia mengerjakan yang dilarang, lalu dia juga meninggalkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan, maka itu juga disebut maksiat. Kerugian Bagi Manusia Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita untuk kebaikan kita. Tidak ada untungnya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala kalau kita semua ke surga, itu tidak akan menambah Kerajaan Allah sedikit pun. Sebagaimana tidak ada ruginya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala kalau kita semua ke neraka, itupun tidak akan mengurangi kerajaan Allah sedikitpun. Ketahuilah Jamaah... Allah berfirman: (۞ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَاۤءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِیُّ ٱلۡحَمِیدُ) Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji. [Surat Fathir 15] Jamaah Ketahuilah!!! keuntungan ke surga adalah milik penduduk surga, milik manusia-manusia yang akan menghuni surga. Dan kerugian adalah milik manusia-manusia penghuni neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menakdirkan kita sebagai penghuni neraka itu. Karena jika iya, maka kerugian adalah milik kita sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman; قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ “Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Az-Zumar[39]: 15) Inilah kerugian hakiki. Bukan kerugian di dunia melainkan kerugian yang berada di neraka. Yang gambaran adzabnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits qudsi; مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ “Tidak pernah terlihat oleh mata manusia, tak pernah terdengar oleh telinga mana pun, dan tidak pernah bisa dibayangkan oleh hati.” (HR. Bukhari, Muslim, dan yang lainnya) Sehebat apa pun kita membayangkan sebuah adzab, neraka lebih pedih dari pada itu. Adzab yang paling ringan yang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan saja tidak bisa logika manusia membayangkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ يُوْضَعُ فِيْ أَخْمَصِ قَدَمِهِ جَمْرَةٌ يَغْلِيْ مِنْهَا دِمَاغُهُ “Penduduk neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang kedua telapak kakinya dipakaikan sandal lantas mendidihlah otaknya.” (HR. Bukhari no. 6561 dan Muslim no. 213)[2] Maka bentengilah diri kita dari neraka. Dan jadikan kehidupan kita ini untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melakukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. أقول ما تسمعون وصلى نبيكم Khutbah Kedua Di dalam kehidupan, manusia melihat orang-orang yang ada di sekitarnya baik rekan kerja, tetangga, atasan, atau pun partner bisnisnya mendapatkan keuntungan-keuntungan duniawi dari hal-hal yang merupakan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka رشوة / menyogok lalu kemudian mendapatkan keuntungan dunia. Mereka melakukan khianat, menerima sesuatu yang tidak pantas dan tidak berhak mereka menerimanya kemudian mereka hidup di dalam kenikmatan dan kekayaan tersebut. Sehingga kemudian banyak orang yang juga menjalankan kehidupan seperti itu karena tergiur oleh orang-orang tersebut. Sadarkah Anda, bahwa justru itulah jalan ke neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman; فَأَمَّا مَنْ طَغَىٰ . وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ . “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). . وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ. (فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِیَ ٱلۡمَأۡوَىٰ) Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya).[ ” (QS. An-Nazi’at[79]: 37-40) Maka biarkan manusia dengan maksiat dan kekayaan di atas maksiatnya.mereka tertawa diatas harta yang dia dapatkan diatas riba , kemudian ada yang menasehati " BEHENTILAH " lalu dia meñjawab dengan dalil dari al-qur'an : (إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَغۡفِرُ أَن یُشۡرَكَ بِهِۦ وَیَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَ ٰ⁠لِكَ لِمَن یَشَاۤءُۚ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. [Surat An-Nisa' 48] Dia Berkata seperti ini Karna begitu pd diampuni oleh Allah Karna sudah banyak amal , saya haji, saya umroh,saya,,,,saya,,, Ini namanya men-TAZKIYAH DIRI. bahasa kita " PERCAYA DIRI" Ini haram, berdasarkan firman Allah: فَلَا تُزَكُّوۤا۟ أَنفُسَكُمۡۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰۤ) Maka janganlah kamu, menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. [Surat An-Najm 32] Ketahuilah ..... orang-orang seperti merekalah ini yang akan menjadi penduduk-penduduk neraka dan menjadi bahan bakarnya kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memaafkannya. Dan katakan kepada mereka bahwa kita tidak mau ikut. Memang hati kita pada asalnya adalah cinta kepada harta dan dunia. Akan tetapi tidak boleh melampaui batas aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita harus menahannya. Kesempatan Selagi Hidup Akhi fiddin, Kesempatan untuk membentengi diri kita dari neraka hanya ada di dunia ketika kita masih hidup. Kata para ulama : الدنيا دار العمل Belum ada pembalasan Camkan baik-baik di dalam hati dan jiwa kita yang paling dalam. Karena di akhirat tidak akan ada kesempatan untuk membentengi diri dari neraka. Karna الآخيرة دار الجزاء Disana tak ada amalan Biarkanlah manusia yang tersesat dan bergelimang dengan maksiat dan harta yang mereka hasilkan dari maksiat. Biarkan mereka tertawa di atas maksiat. Selalu letakkan di depan pelupuk mata kita firman Allah Tabaraka wa Ta’ala; يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 105) Tidak akan membuat rugi kepada kita mereka-mereka yang melakukan maksiat asal kita berada di atas hidayah dan petunjuk-Nya. Kalau kita ke surga sedangkan jutaan manusia ke neraka, tidak akan memberikan kerugian apa pun kepada kita. Dan sebaliknya, na’udzubillah, kalau kita justru ke neraka sedangkan jutaan manusia ke surga, apa untungnya bagi kita

Jumat, 08 November 2024

PENYEBAB HINANYA KAUM MUSLIMIN

نستعيده ونستغفره ونتوب اليه ونستهديه نسلم ونسلم على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد عباد الله أوصيكم وإياي نفسي بتقوى الله وطاعته فقد فاز المتقون Jamaah..,.. Tak lupa Khotib ingatkan diri Khotib pribadi dan jamaah sekalian , setelah kita memuji memuja Allah Subhana wa ta'ala . Dan sholawat dan salam kepada junjungan kita nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam agar kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah dengan melaksanakan perintah dan menjauhi segala larangannya.dan itulah sebaik baik bekal menuju Allah Subhana wa ta'ala , setelah itu,.. Diantara yang menjadi sebab jauhnya kaum muslimin dari Islam, agamanya para nabi dan rasul, yang diakhiri dengan kenabian dan kerasulan Muhammad shalallahu alaihi wassalam adalah: Pertama; mereka beragama dengan akal akal (logika)mereka semata, bukan dengan Wahyu. مَن قالَ في القرآنِ برأيِهِ ، أو بما لا يعلمُ ، فليتبَوَّأ مقعدَهُ منَ النَّارِ Artinya, “Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda ‘Barang siapa yang berpendapat pada al-Qur’an dengan akalnya atau dengan apa yang tidak diketahuinya maka hendaknya ia ambil tempatnya di neraka,’” (HR Turmudzi). padahal kita diperintahkan beragama dengan Wahyu alkitab (Al-Qur'an) dan sunnah. وَّاتَّبِعْ مَا يُوْحٰىٓ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًاۙ dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Ahzab [33]: 1-2) sedangkan akal merupakan gharizah(tabiat) yang ada pada manusia wajib mengikuti dan Taslim (menyerah) Kepada keputusan Wahyu. Akal yang sehat dan memiliki ketegasan selamanya tak akan pernah bertentangan dengan Wahyu. Kecuali akal yang sakit dan goncang selamanya pasti akan selalu bertentangan dengan Wahyu. Akal yang seperti inilah yang mereka jadikan sebagai agama yang mereka beragama dengannya. Kedua; mereka beragama dengan perasaan(hawa nafsu). ،Sementara Allah melarang beragama dengan hawa nafsu. Allah berfirman: وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu”. (QS. Al-Maa’idah : 48) meskipun Wahyu telah sampai kepada mereka berupa perintah atau larangan, akan tetapi sering kali kita dengar mereka bermain dengan perasaan,hawa nafsu seperti kata kata mereka : Apa salahnya? Bukankah amal ini baik? Niat kami kan baik ? Daripada ? Agama tidak boleh diukur berdasarkan pada perasaan. Syaikh Muhammad bin Saleh al-Utsaimin rahimahullah menyatakan, لو كان الدين بالعاطفة لكان جميع أهل البدع على حق “Seandainya agama itu berlandaskan kepada perasaan, niscaya semua ahli bid’ah berada di atas kebenaran.” (Silsilah Al-Liqo asy-Syahri 33) Ketiga; mereka beragama dengan taklid buta bukan dengan ittiba' dengan Sunnah Rasulullah. taklid adalah ketika engkau mengikuti pendapat seseorang tanpa mengetahui hujjah atau dalilnya. itulah hakikat taklid. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah Beliau mengatakan, لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الثوري ولا الأوزاعي وخذ من حيث أخذوا “Janganlah kalian taklid kepadaku, jangan pula bertaklid kepada Malik, ats-Tsauri, al-Auza’i, tapi ikutilah darimana mereka mengambil dalil.” (I’lam al-Muwaqqi’in 2/201;Asy-Syamilah,). Ke empat; mereka beragama dengan cara mengikuti adat, tradisi,budaya, orang banyak,nenek moyang ,kaum,suku, toleransi, kebersamaan, dan yang selainnya yang semakna dari cara cara orang jahiliah. Meskipun bertentangan dengan Islam, ajaran Rasulullah. Allah berfirman: بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ “Mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (QS. Az Zukhruf: 22) Kelima; kita melihat mereka beragama dengan cara ta'asub mazhabiyyah (mengikuti madzhab atau faham kelompoknya). yang merupakan bid'ah besar yang menjadi salah satu penyakit yang sangat berat bagi umat ini, walaupun bertentangan dan berlawanan dengan dalil. Karna hakikat ta'asub adalah " menolak kebenaran yang datang dan sampai kepadanya karena sangat berpegang dengan mazhabnya ". Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Kaum muslimin telah berijma’ (bersepakat) bahwa barangsiapa yang telah melihat sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dengan jelas, maka ia tidak boleh meninggalkannya lantaran mengikuti pendapat seseorang.” Referensi : https://almanhaj.or.id/1534-taashub-dan-taklid-pangkal-hizbiyah.html Keenam; mereka beragama dengan berbagai macam kesyirikan, bukan dengan tauhid.bahkan mereka telah mengganti yang syirik menjadi tauhid, dan yang tauhid menjadi syirik.. sementara Allah memerintahkan bertauhid dan menjauhkan syirik وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً Dan Allah mengancam pelaku syirik ۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. [Surat Al-Ma'idah 72] Ketujuh; mereka beragama dengan berbagai macam bid'ah, bukan dengan Sunnah, dan yang Sunnah menjadi bid'ah. Rasulullah telah mengingatkan dalam hadits nya عليْكُم بسُنَّتي وسُنَّةِ الخُلفاءِ الرَّاشدينَ المَهديِّينَ مِن بعْدي، تَمسَّكوا بِها، وعَضُّوا عليْها بالنَّواجذِ، وإيَّاكم ومُحْدَثاتِ الأمورِ؛ فإنَّ كلَّ مُحْدَثةٍ بِدْعةٌ، وكلَّ بِدْعةٍ ضَلالةٌ. Orang yang melakukan bid'ah pada hakikatnya telah menuduh rasul telah berkhianat terhadap risalah. Berkata imam Malik bin Anas من أبتداء في الإسلام بدعة ، ويراها حسنة فقد زعم أن رسول الله خان رسالة، لأن الله يقول : (اليوم أكملت لكم دينكم ). " Barang siapa yang membuat satu perkara baru (bid'ah) dalam Islam, dan dia melihat itu satu kebaikan maka dia sudah menuduh bahwasanya Rasulullah mengkhianati risalah. Karna Allah telah berkata " pada hari ini telahku sempurnakan bagi kamu agamamu" فما لم يكون يومئذ دينا ، فلم يكون اليوم دينا. Jika pada masa nabi bukanlah agama maka pada hari ini juga bukan agama. Contoh yang paling menarik adalah mereka ber_istighotsah dan bertawasul dengan penghuni kubur.., peringatan maulid yang merupakan bid'ah besar yang dirubah menjadi Sunnah !!!,. Apa yang mereka kerjakan tersebut tertolak, karna Rasulullah bersabda dalam hadits Aisyah ; - مَن عَمِلَ عَمَلًا ليسَ عليه أمْرُنا فَهو رَدٌّ. "Barangsiapa yang membuat satu perkara yang tidak dari perintah kami , maka tertolak" Kedelapan; mereka beragama dengan cara memecah belah umat dengan berfirqoh_firqoh, atau kelompok kelompok.setiap kelompok mengajak kaum muslimin kegolongannya . Allah berfirman: (فَتَقَطَّعُوۤا۟ أَمۡرَهُم بَیۡنَهُمۡ زُبُرࣰاۖ Kemudian mereka terpecah belah dalam urusan (agama)nya menjadi beberapa golongan. كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَیۡهِمۡ فَرِحُونَ) Setiap golongan (merasa) bangga dengan apa yang ada pada mereka (masing-masing). [Surat Al-Mu'minun 53] Ini di karenakan mereka berpegang dengan hadits dho'if bahkan palsu : إختلاف أمتي رحمة Perbedaan dalam umat ku adlah Rahmat . Berkata : Ibnu Hazm Al _Andalusi (dalam kitab al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam), jika memang perbedaan adalah rahmat, maka persatuan dan kesepakatan merupakan malapetaka. Jamaah..... Dan mereka saling melaknat dan saling mengkafirkan satu sama lain , padahal Allah menyuruh untuk bersatu dan melarang berpecah belah وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ "Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah,dan jangan kalian berpecah belah. Kesembilan; dakwah mereka sangat mengorbankan syariat. Syariat mereka korbankan demi tercapainya maksud dan tujuan, atau memang karena kebodohan mereka. Kesepuluh; mereka sangat ingin menegakkan syariat Islam di negeri mereka dengan cara yang paling batil yang pernah ada dalam sejarah umat Islam. Mereka demikian merendah dan menghinakan diri dihadapan Yahudi, dan menjadikan Yahudi sebagai guru besarnya, mereka dengan sangat setia tanpa kenal lelah keluar masuk madrasah besar yang dibuat Yahudi untuk para mahasiswanya di negeri Islam yang dinamakan Parlemen. Adakah masuk ke akal akal orang yang berakal yang berjalan sesuai dengan akal yang sehat dan memiliki ketegasan. Cara cara mereka ini dalam menegakkan syariat Islam dalam sebuah madrasah besar Yahudi, yang sengaja dibuat untuk mematikan syariat Islam dan menghancurkan kaum muslimin secara khusus dan umat manusia secara umum. Jamaah.,.. Oleh karena itu sesuai dengan kaidah al_jaza'u min jinsiyal 'amal . balasan sesuai dengan jenis amalnya.maka pada akhirnya kaum muslimin menerima bagian terbesar dari 2 dua sabda nabi yang mulia. سَمِعتُ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يقولُ: إذا تبايعْتُم بالعِينةِ، وأخَذْتُم أذنابَ البَقَرِ، ورَضِيتُم بالزَّرعِ، وتَرَكتُم الجِهادَ؛ سَلَّط اللهُ عليكم ذُلًّا لا يَنزِعُه حتى تُراجِعوا الى دِينَكم. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu, dia berkata: aku pernah mendengar dari Rasulullah; "apabila kamu berjual beli secara,'inah , dan kamu memegang buntut buntut sapi, dan kamu senang dengan tanaman tanaman, dan kamu meninggalkan jihad, pasti Allah akan memberikan kepada kamu kehinaan. Dan Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari Kamu sampai Kamu kembali kepada agama kamu "... Hadist yang kedua; يُوشِكُ الأممُ أن تَداعَى عليكم ، كما تَداعَى الأكَلةُ إلى قصْعتِها، Hampir umat umat akan menyerang kalian, sama seperti orang orang menyerang makanan di dalam mangkuk makanan فقال قائلٌ : ومن قِلَّةٍ نحن يومئذٍ ؟ قال : بل أنتم يومئذٍ كثيرٌ ، ولكنَّكم غُثاءٌ كغُثاءُ السَّيلِ، Seseorang berkata: apakah jumlah kita pada hari itu sedikit? Beliau bersabda: Tidak, jumlah kamu banyak pada hari itu, tetapi kamu akan menjadi buih seperti buih di aliran deras, ولينزِعَنَّ اللهُ من صدورِ عدوِّكم المهابةَ منكم، dan Allah akan menghilangkan rasa takut dari dada musuh-musuhmu وليقذِفَنَّ اللهُ في قلوبِكم الوهْنَ ، فقال قائلٌ : يا رسولَ اللهِ وما الوهْنُ ؟ قال حبُّ الدُّنيا وكراهيةُ الموتِ, dan Allah akan melemparkan kelemahan ke dalam hatimu, Wahai Rasulullah, apa itu kelemahan? Beliau menjawab: Cinta dunia dan benci kematian. لا حول ولاقوة إلا بالله أقول ما تسمعون وصلا نبيكم Itulah dua hadits yang mulia yang menjelaskan kepada kita tentang keadaan umat ini... Ketika mereka meninggalkan alkitab dan Sunnah dan manhaj salafus Sholeh dalam beragama... Ketika mereka terbenam dalam kehidupan dunia melupakan akhirat.,. Ketika mereka lebih menyukai kematian hati dari kematian jasmani.... Ketika mereka menjadi bangkai bangkai yang berjalan di muka bumi tanpa ruh dan nur dari alkitab dan Sunnah.... Kemudian.,.. Jadilah mereka orang orang yang lemah agamanya bersama setumpuk kelemahan yang ada pada mereka.... Maka .... Ketika itulah Allah mencabut kehebatan, kebesaran, kewibawaan mereka dari hati hati musuh mereka... Pada waktu yang sama Allah memasukkan kelemahan kedalam hati hati mereka... Maka jadilah mereka orang orang yang hina... Penuh dengan kehinaan... Dalam kerendahan... Dihadapan orang orang kafir... Yang dengan tamaknya melalap mereka hidup hidup... Katakanlah kepadaku demi rabb yang maha tinggi... Adakah yang tidak di miliki oleh Kafir kafir itu dari apa yang ada pada kalian??? Atau adakah yang ditinggalkan oleh mereka dari hidup dan kehidupanmu ??? Katakanlah kepadaku demi rabb yang maha mulia.... Bukankah kehormatan kalian telah dirobek robek???? Hartamu telah dirampas Tanahmu telah dikuasai... Darahmu telah ditumpahkan seperti sapi sapi yang dibawa untuk disembelih.... Dikorbankan... Kemudian.... Dibagi bagikan dagingnya... Kemudian mereka berkumpul bersama sama mengelilingi sebuah mangkuk besar dalam hidangan dan santapan yang sangat lezat dan melezatkan... Akhirnya Kepada Allah lah kita kembali mengadukan semua ini...

Minggu, 11 Desember 2022

TERNYATA BIDAH ADA DALILNYA

Siapa bilang maulid tidak âda dalilnya? Bagi anda yang ingin tau dalilnya maka silahkan baca baik baik,...! 1-Kiyai said aqil mengakui maulid ada dalilnya täpi dari syiah..! 2-Al imam Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.” (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146) 3-Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H. Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dari Al Maulid, hal. 20) Fatimiyyun yang Sebenarnya Kebanyakan orang belum mengetahui siapakah Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun. Seolah-olah Fatimiyyun ini adalah orang-orang sholeh dan punya i’tiqod baik untuk mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi senyatanya tidak demikian. Banyak ulama menyatakan sesatnya mereka dan berusaha membongkar kesesatan mereka. 4-Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan “Kasyful Asror wa Hatkul Astar (Menyingkap rahasia dan mengoyak tirai)”. Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Rafidhah (Syi’ah) dan menyembunyikan kekufuran semata.” 5-Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqiy mengatakan, “Tidak disangsikan lagi, jika kita melihat pada sejarah kerajaan Fatimiyyun, kebanyakan dari raja (penguasa) mereka adalah orang-orang yang zholim, sering menerjang perkara yang haram, jauh dari melakukan perkara yang wajib, paling semangat dalam menampakkan bid’ah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, dan menjadi pendukung orang munafik dan ahli bid’ah. Perlu diketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Al ‘Abbas (‘Abbasiyah) lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih berilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun. Dua daulah tadi lebih sedikit berbuat bid’ah dan maksiat daripada Daulah Fatimiyyun. Begitu pula khalifah kedua daulah tadi lebih utama daripada Daulah Fatimiyyun.” Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur.” (Majmu’ Fatawa, 35/127) Dicopas dari artikel rumaysho.com Dengan editing pribdi.. Akhukum fillah.. Nurdiansyah(din ikhwan dakwah sunnah)

Jumat, 02 Desember 2022

Cuplikan AdSend radioairhaji

Minggu, 20 November 2022

PERSAHABATAN YG RAPUH

PERSAHABATAN YANG RAPUH Persahabatan yang rapuh adalah persahabatan yang dibangun di atas dunia dan kepentingan. Selama dunia bisa mereka nikmati dan kepentingan bersama terwujud, mereka akan berjalan "mesra" bergandengan tangan menapaki jalan menuju "impian semu". Tatkala dunia tak lagi dapat dinikmati bersama dan kepentingan pun berbeda,ketika itu persahabatan hanyalah "tinggal kenangan". Mereka pun bercerai-berai berlainan arah. Tragisnya, perceraian tersebut bukan lagi "thlaq raji'i" yang bisa dipersatukan kembali, tetapi....perceraian itu menjadi "talaq ba'in" thalaq tiga yang tak kan ruju' kembali. Lebih dahsyat dari itu, masing-masing pihak berusaha merebut simpati siapa saja yang dapat dianggap menjadi pembelanya dan pro padanya, sehingga peperangan meluas. Segala "senjata pemungkas" tiap pihak yang bertikai dikeluarkan. Baik berupa fitnah, dusta, adu domba...semuanya menjadi halal ditembakkan menuju sasaran. Tujuannya adalah untuk melumpuhkan lawan,bahkan membinasakannya. "Kemesraan" yang pernah ada, hanyalah episode yang telah berlalu dari mimpi-mimpi lama yang tak lagi hadir. Senyum tawa dan canda kini berganti, ghibah,makian dan cacian. Siapa saja yang pro dan berpihak padanya menjadi kawan dan dianggap benar. Sebaliknya siapa saja yang tidak berpihak padanya dianggap lawan dan salah. "Hizbiyyah" gaya baru pun muncul. Kini loyal tidak lagi dibangun diatas agama, tetapi di atas siapa"ku suka" dan siapa "tak ku suka". * * * Tujuan negeri akhirat adalah tujuan yang satu dan jalan yang tak bercabang. Niat yang tulus itulah yang dapat menyatukan manusia untuk tetap setiap menapaki jalan tersebut. Walaupun sesekali terjadi perselisihan ijtihad,tetapi tak kan memecah belah mereka. Adapun tujuan dunia, adalah jalan yang bercabang dan bersimpang. Setiap simpang selalu membingungkan dan berpotensi mencerai-beraikan sahabat dengan sahabatnya. Akhirnya keutuhan persahabatan terancam, dipersimpangan jalan mereka berpisah. * * * Kenyataan yang paling runyam,adalah munculnya peselisihan dunia yang dikemas dalam baju agama. Tujuan dunia yang dibungkus apik dengan amalan akhirat. Bersabda Nabi-Shallallahu alaihi wa sallam- dari jalur Ubay bin Ka'ab dari riwyat Imam Ahmad dan Ibnu Hibban: بشِّرْ هذهِ الأمةَ بالسَّنا والرفعةِ والتمكينِ في البلادِ ما لم يطلبوا الدُّنيا بعملِ الآخرةِ فإذا طلبوا الدُّنيا بعملِ الآخرةِ لم يكنْ لهم في الآخرةِ من نصيبٍ "Bergembiralah ummat ini dengan cahaya,ketinggian dan kemenangan menjadi penguasa negeri-negeri, selama mereka tidak mencari dunia dengan amalan akhirat, sekiranya mereka mencari dunia dengan amal akhirat, niscaya tiada lagi bagian mereka kelak di akhirat." Untuk tendensi dan arogansi manusia, digunakan segudang ayat dan riwayat. Dijadikan " selisih pendapatan"seolah menjadi selisih pendapat. Dibawa-bawa perselisihan disebabkan perebutan "bangkai" (baca dunia) seolah-olah perselisihan manhaj dan saling sesat menyesatkan. La haula wala quwwata illa billahi.. Hanya kepada Allah kita bermohon,semoga dihindarkan dari bencana peperangan ala jahilyyah ini. Sungguh benar firman Tuhan,bahwa segala bentuk persahabatan yang dibangun di atas kepentingan dunia, kan rapuh dan hancur bercerai berai di hari kiamat, kecuali persaudaraan yang dibangun di atas taqwa. الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.Qs. Az -zukhruf: 67. Lebih tragis lagi, hancurnya benang-benang persahabatan tersebut, terurai dan terputus telah terjadi di dunia sebelum datangnya hari akhirat. ----------------- Batam, 17 Rabius Tsani 1437 H/27 Jan 2016H. Abu Fairuz

Selasa, 08 November 2022

SYARAH AQIDAH MANHAJ 5

SESI KE-4 PEMBAHASAN KITAB MANHAJ & AQIDAH [Bersama Ustadzuna Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah Ta'ala di Masjid Jami' Imam Abu Daud, Tenayan Raya - Pekanbaru] Manhaj secara bahasa adalah jalan yang jelas, jalan yang terang dan jalan yang mudah. Menurut istilah adalah Sunnah. Ini ditegaskan oleh Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'anhuma ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا "Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang." (QS. Al-Maidah : 48) Maksudnya perjalanan Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam di dalam mendakwahkan Islam dan mengamalkannya yang diikuti oleh sahabat Radhiyallahu 'anhum dengan puncak kesetiaan. Ini merupakan tafsir yang sangat jelas, terbukti do'a Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa kepada Abdullah bin 'Abbas Radhiyallahu 'anhuma, yaitu agar diajarkan Kitabullah dan paham akan agama. Sunnah ada 2 makna, yakni : 1. Semakna dengan hadits : setiap perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi. Persetujuan Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam atas perbuatan sahabat. Ini di isyaratkan dengan diam, tersenyum dan tertawa, yang 2. Sama dengan manhaj yaitu perjalanan dalam mendakwahkan dan mengamalkan Islam sampai Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam wafat (sepanjang hayat beliau). Sunnah yang dimaksud di sini bukan sunat yang kita pahami sebagaimana dalam hukum fikih. Contoh : Anas pernah hendak bersafar, beliau berbuka di rumahnya sebelum melakukan perjalanan. Lalu ditanya oleh tabi'in apakah ini Sunnah? Anas Radhiyallahu 'anhu menjawab : iya, ini Sunnah. Bab ke-5 : Quburiyyun (lihat halaman 62 pada buku Manhaj & Aqidah) Sebelumnya dari Nabi Adam 'Alayhissalam sampai Nabi Nuh 'Alayhissalam selama 10 abad (1000 tahun), tidak ada kesyirikan di atas bumi. Di zaman Nabi Nuh ada beberapa orang shaleh yang telah wafat. Untuk mengenang jasa-jasa mereka maka dibuatlah patung-patung mereka. Awalnya tidak disembah, namun dengan berlalunya waktu, akhirnya di bujuk rayu oleh iblis sehingga akhirnya di sembah, inilah awal mula kesyirikan yang terjadi dipermukaan bumi. (Lihat tafsir dalam surah Nuh) Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (1) قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (2) أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ (3) يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (4) Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan), "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih." Nuh berkata, "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu, (yaitu) sembahlah Allah olehmu, bertakwalah kepada-Nya, dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui. قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا (5) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا (6) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا (7) ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا (8) ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا (9) فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12) مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا (13) وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا (14) أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا (15) وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا (16) وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا (17) ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا (18) وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا (19) لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا (20) Nuh berkata, " Ya Rabb-ku, Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan Sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka. mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian Sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian Sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) secara terbuka dan dengan diam-diam, maka aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu,' sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita. Dan Allah menciptakan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (darinya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menempuh jalan-jalan yang luas di bumi itu.” قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا (21) وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا (22) وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (23) وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا (24) Nuh berkata, "Ya Rabb-ku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu daya yang amat besar." Dan mereka berkata, "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwa', yagus, ya'uq dan nasr." Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًا (25) وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا (26) إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا (27) رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا (28) Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan, lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah. Nuh berkata, "Ya Rabb-ku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di anta a orang-orang kafir tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Ya Rabb-ku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” Salah satu penyebab kesyirikan terbesar sampai zaman ini adalah mengagungkan kubur-kubur orang shaleh, meminta kepada penghuni kubur. Nabi Nuh 'Alayhissalam berdakwah selama 950 tahun siang dan malam. Yang beriman kepada dakwah beliau hanya beberapa orang saja. Pendidikan kaum Nuh 'Alayhissalam terhadap anak-anak mereka adalah pendidikan kufur. Yang pada akhirnya mereka semua binasa dengan banjir yang dahsyat dan tidak tersisa kecuali beberapa orang saja. Walhasil, yang selamat merupakan generasi kedua setelah generasi Nabi Adam 'Alayhissalam. Pada bab ini (Bab ke-5 : Quburiyyun) ada 6 buah hadits. Hadits Pertama (ke-14) : Dari Jundab -Jundub-, dia berkata : Aku pernah mendengar Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda lima hari sebelum beliau wafat : إنِّي أبْرَأُ إلى اللهِ أنْ يَكونَ لي مِنكُم خَلِيلٌ، فإنَّ اللهِ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا، كما اتَّخَذَ إبْرَاهِيمَ خَلِيلًا، ولو كُنْتُ مُتَّخِذًا مِن أُمَّتي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أبَا بَكْرٍ خَلِيلًا، ألَا وإنَّ مَن كانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أنْبِيَائِهِمْ وصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، ألَا فلا تَتَّخِذُوا القُبُورَ مَسَاجِدَ، إنِّي أنْهَاكُمْ عن ذلكَ. "Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah dari mengambil diantara kamu sebagai khalilku (kekasih). Karena sesungguhnya Allah telah mengambilku -menjadikanku- sebagai khalil-Nya, sebagaimana Allah telah mengambil Ibrahim sebagai khalil-Nya. Kalau seandainya aku boleh mengambil dari umatku sebagai khalilku, pastilah aku mengambil Abu Bakar sebagai khalilku. Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang sebelum kamu telah menjadikan kubu Nabi-Nabi mereka dan kubur orang-orang yang shalih diantara mereka sebagai masjid-masjid. Ingatlah, maka janganlah kamu menjadikan kubur-kubur itu sebagai Masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari mengerjakan yang demikian itu." (HR. Imam Muslim no.532) Hadits Kedua (ke-15) : Dari Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiyallahu 'anha, dia berkata : Sesungguhnya Ummu Habibah dan Ummu Salamah (keduanya juga Ummul Mukminin), keduanya menerangkan tentang gereja yang mereka lihat di negeri Habsyah (Ethiopia) yang di dalamnya terdapat patung-patung. Lalu keduanya menerangkan kepada Nabi Shalallahu 'alayhi wa sallam, maka beliau bersabda : إنَّ أُولَئِكَ إذَا كانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ، بَنَوْا علَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وصَوَّرُوا فيه تِلكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَومَ القِيَامَةِ. "Sesungguhnya mereka itu, apabila ada diantara mereka seorang yang shalih wafat, kemudian mereka bangun dikuburnya Masjid dan mereka buat di dalamnya patung-patung, maka mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat." (HR. Imam Bukhari no. 427, 434, 1341 dan 3873, Imam Muslim no. 258 dan Imam An-Nasa'i no. 704 dan selain mereka) Hadits Ketiga (ke-16) : Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda: لعنةُ اللهِ على اليهودِ والنصارى اتخذوا قبورَ أنبيائِهم مساجدَ "Laknat Allah atas Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kubur-kubur Nabi-nabi mereka sebagai Masjid-masjid. " (HR. Imam Bukhari no. 436, 1330, 1390, 3454, 4441, 4444 dan 5816, Imam Muslim no. 531 dan Imam An-Nasa'i no. 703 dan yang selain mereka dari jalan/hadits 'Aisyah dan Abdullah bin Abbas) Hadits Keempat (ke-17) : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda: قاتل اليهود اتخذوا فبور أنبيا ئهم مساجد. "Semoga Allah membinasakan Yahudi yang telah menjadikan kubur-kubur Nabi-nabi mereka sebagai Masjid-masjid." (HR. Imam Bukhari no. 437, Imam Muslim no. 530, Imam Abu Dawud no. 3227 dan Imam An-Nasa'i no. 2047 dan selain mereka) Dalam satu riwayat Imam An-Nasa'i dan Imam Muslim : ...لعن الله اليهود والنصارى (Allah melaknat Yahudi dan Nashrani....) Diantara fikih hadits, maksud menjadikan kubur sebagai masjid ialah : 1. Membangun Masjid di kubur atau disekitar kubur. 2. Mengubur mayit di masjid atau di sekitar yakni halaman Masjid. 3. Menjadikan kubur sebagai tempat untuk ibadah seperti berdo'a -kecuali mendo'akan mayit- dan lain-lain yang di datangi pada waktu-waktu tertentu Hadits Kelima (ke-18) : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : لا تجعلوا بيوتَكُم قبورًا، ولا تجعلوا قَبري عيدًا، وصلُّوا عليَّ فإنَّ صلاتَكُم تبلغُني حَيثُ كنتُمْ "Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu seperti kuburan, dan janganlah kamu jadikan kuburku sebagai 'ied (tempat perayaan). Akan tetapi bershalawat kepadaku, karena sesungguhnya shalawat kamu itu akan sampai kepadaku dimana saja kamu berada." (Hadits Hasan, riwayat Imam Abu Dawud no. 2042 dan Imam Ahmad 2/367) Hadits Keenam (ke-19) : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam (beliau bersabda) : اللَّهمَّ لا تَـجْعَلْ قَبْري وَثَنًا، لعَنَ اللهُ قَوْمًا اتَّـخَذوا قُبورَ أَنْبِيائِهم مَساجِدَ. "Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah. Karena Allah melaknat kaum yang menjadikan kubur-kubur Nabi-nabi mereka sebagai Masjid-masjid." (Hadits Hasan yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dan Imam Al-Humaidi juga dimusnadnya) Berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lainnya bahwasanya masjid dan kuburan terpisah.Hadits ini juga menunjukkan tidak ada membaca Al-Qur'an di kuburan, juga berdasarkan hadits-hadits yang lainnya. Adapun kondisi kubur Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam: 1. Kuburan Nabi di rumah beliau, karena ada hadits yang menjelaskan bahwa setiap Nabi dikubur dimana tempat wafatnya. Beliau Shallallahu 'alayhi wa wafat di rumah 'Aisyah Radhiyallahu 'anha. 2. Perluasan terjadi ketika para sahabat semua telah wafat, khalifah ketika itu melakukan perluasan masjid sehingga rumah 'Aisyah masuk ke dalam perluasan. Ada beberapa tabi'in yang mengingkari, namun tetap dilakukan perluasannya. Bolehkah kita shalat di masjid Nabawi? Kan ada kubur Nabi? Jawabannya ini kekhususan, dan masjid Nabawi memiliki keutamaan, sebagaimana Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Lanjut Bab ke-6 : Orang Yang Sampai Mati Tidak Beriman Kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم Padahal Da'wah Yang Shahih Telah Sampai Kepadanya Maka Dia Termasuk Penghuni Neraka Dan Kekal Di Dalamnya Selama-lamanya. (Lihat halaman 71 pada buku Manhaj dan Aqidah) Hadits Kedua puluh: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam sesungguhnya beliau bersabda : و الذي نفْسُ محمدٍ بيدِهِ ، لا يسمعُ بي أحدٌ من هذه الأمةِ ، لا يهودِيٌّ ، و لا نصرانِيٌّ ، ثُمَّ يموتُ ولم يؤمِنْ بالذي أُرْسِلْتُ به ، إلَّا كان من أصحابِ النارِ "Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, tidak seorang pun juga dari umat ini yang mendengar kedatangan aku, baik Yahudi maupun Nashrani, kemudian sampai mati dia tidak beriman dengan kerasulanku, melainkan dia termasuk penghuni neraka." (Hadist Shahih. Dikeluarkan oleh Imam Muslim no. 153) Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam, karena sebab : 1. Senantiasa bersama Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam. 2. Berkat do'a kepada Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam kepada beliau. 3. Mukjizat Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam, ketika Abu Hurairah mengeluhkan tentang beliau sering lupa. Ketika Nabi bersabda, Abu Hurairah seolah-olah menampung sabda Nabi tersebut dengan bajunya, setelah itu beliau peluk ke dadanya. Berkat mukjizat ini, Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu tidak menjadi lupa (kuat hafalan beliau) 4. Ahli hadits pertama dalam Islam, atas persaksian Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam. Meskipun termasuk terakhir masuk Islam sekitar tahun ke-7 Hijriyah, sejak itu beliau selalu bersama Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam. Meninggalkan kemewahan di Yaman untuk bisa hidup di Madinah. Gigihnya dan meminta kepada Nabi agar ibu beliau memeluk agama Islam. Hadits ini adalah hadits perintah untuk mendakwahkan agama ini, dengan syarat harus bersumber dari Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam. Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam mendakwahkan kepada raja-raja dunia ketika, sehingga banyak yang datang ke Madinah yang banyak untuk mempelajari Islam. Musailamah Al-Kadzab juga pernah menjumpai Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam, namun petunjuk tidak masuk ke relung hatinya, karena ia hanya menginginkan kekuasan setalah Nabi wafat. Lanjut ke Bab ke-7 : Semua Agama Para Nabi dan Rasul Adalah Satu/Sama Yaitu Islam. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: إِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَأَنَا۠ رَبُّكُمْ فَٱعْبُدُونِ "Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Rabb-mu, maka sembahlah Aku." (QS. Al-Anbiya' : 92) Ibnu Abbas, Mujahid, Sa'id bin Jubair, Qatadah dan lain-lain dari para Ulama Shahabat dan Tabi'in telah menafsirkan firman Allah Ta'ala ini (Tafsir Al-Hafizh Ibnu Katsir. Dan Atsar dari Ibnu Abbas diantaranya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir di kitab tafsirnya dalam menafsirkan ayat diatas) bahwa semua agama para Nabi dan Rasul dari Nabi Adam 'Alayhissalam sampai Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam adalah satu, yaitu dinul Islam, sebagaiman Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam bersabda: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : "Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda: أنا أولى الناسِ بعيسى ابنِ مريمَ في الدنيا والآخرةِ، والأنبياءُ إخوةٌ لعلَّات، أمهاتُهم شتَّى ودينُهم واحد "Aku adalah orang yang paling dekat kepada Isa bin Maryam di dunia dan di akhirat, dan para Nabi itu saudara sebapak lain ibu, sedangkan agama mereka satu." (HR. Imam Bukhari no. 3442 dan 3443, juga Imam Muslim no. 2365, lafaz ini milik Imam Bukhari) Nabi Isa 'Alayhissalam yang paling dekat Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam, baik di dunia dan di akhirat, disebabkan : 1. Jarak paling dekat dengan Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam, karena antara Nabi Isa dengan Nabi Muhammad 2. Yang memberi kabar terakhir, bahwa akan ada Nabi terakhir yang termaktub di Taurat dan Injil. Di dalam surah Shaf : وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (6) Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, "Ini adalah sihir yang nyata.” 3. Nasabnya sama, sama-sama keturunan Nabi Ibrahim 'Alayhissalam. 4. Agamanya sama, dakwahnya sama, mengajak untuk mengibadahi Allah Subhanahu wa Ta'ala. diketik oleh : Abu Abdillah Rahmat Silaturahim

SYARAH AQIDAH MANHAJ 4

SESI KE-4 PEMBAHASAN KITAB MANHAJ & AQIDAH [Bersama Ustadzuna Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah Ta'ala di Masjid Jami' Imam Abu Daud, Tenayan Raya - Pekanbaru] Manhaj secara bahasa adalah jalan yang jelas, jalan yang terang dan jalan yang mudah. Menurut istilah adalah Sunnah. Ini ditegaskan oleh Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'anhuma ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا "Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang." (QS. Al-Maidah : 48) Maksudnya perjalanan Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam di dalam mendakwahkan Islam dan mengamalkannya yang diikuti oleh sahabat Radhiyallahu 'anhum dengan puncak kesetiaan. Ini merupakan tafsir yang sangat jelas, terbukti do'a Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa kepada Abdullah bin 'Abbas Radhiyallahu 'anhuma, yaitu agar diajarkan Kitabullah dan paham akan agama. Sunnah ada 2 makna, yakni : 1. Semakna dengan hadits : setiap perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi. Persetujuan Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam atas perbuatan sahabat. Ini di isyaratkan dengan diam, tersenyum dan tertawa, yang 2. Sama dengan manhaj yaitu perjalanan dalam mendakwahkan dan mengamalkan Islam sampai Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam wafat (sepanjang hayat beliau). Sunnah yang dimaksud di sini bukan sunat yang kita pahami sebagaimana dalam hukum fikih. Contoh : Anas pernah hendak bersafar, beliau berbuka di rumahnya sebelum melakukan perjalanan. Lalu ditanya oleh tabi'in apakah ini Sunnah? Anas Radhiyallahu 'anhu menjawab : iya, ini Sunnah. Bab ke-5 : Quburiyyun (lihat halaman 62 pada buku Manhaj & Aqidah) Sebelumnya dari Nabi Adam 'Alayhissalam sampai Nabi Nuh 'Alayhissalam selama 10 abad (1000 tahun), tidak ada kesyirikan di atas bumi. Di zaman Nabi Nuh ada beberapa orang shaleh yang telah wafat. Untuk mengenang jasa-jasa mereka maka dibuatlah patung-patung mereka. Awalnya tidak disembah, namun dengan berlalunya waktu, akhirnya di bujuk rayu oleh iblis sehingga akhirnya di sembah, inilah awal mula kesyirikan yang terjadi dipermukaan bumi. (Lihat tafsir dalam surah Nuh) Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (1) قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (2) أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ (3) يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (4) Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan), "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih." Nuh berkata, "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu, (yaitu) sembahlah Allah olehmu, bertakwalah kepada-Nya, dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui. قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا (5) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا (6) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا (7) ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا (8) ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا (9) فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12) مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا (13) وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا (14) أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا (15) وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا (16) وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا (17) ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا (18) وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا (19) لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا (20) Nuh berkata, " Ya Rabb-ku, Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan Sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka. mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian Sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian Sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) secara terbuka dan dengan diam-diam, maka aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu,' sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita. Dan Allah menciptakan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (darinya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menempuh jalan-jalan yang luas di bumi itu.” قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا (21) وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا (22) وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (23) وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا (24) Nuh berkata, "Ya Rabb-ku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu daya yang amat besar." Dan mereka berkata, "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwa', yagus, ya'uq dan nasr." Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًا (25) وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا (26) إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا (27) رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا (28) Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan, lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah. Nuh berkata, "Ya Rabb-ku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di anta a orang-orang kafir tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Ya Rabb-ku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” Salah satu penyebab kesyirikan terbesar sampai zaman ini adalah mengagungkan kubur-kubur orang shaleh, meminta kepada penghuni kubur. Nabi Nuh 'Alayhissalam berdakwah selama 950 tahun siang dan malam. Yang beriman kepada dakwah beliau hanya beberapa orang saja. Pendidikan kaum Nuh 'Alayhissalam terhadap anak-anak mereka adalah pendidikan kufur. Yang pada akhirnya mereka semua binasa dengan banjir yang dahsyat dan tidak tersisa kecuali beberapa orang saja. Walhasil, yang selamat merupakan generasi kedua setelah generasi Nabi Adam 'Alayhissalam. Pada bab ini (Bab ke-5 : Quburiyyun) ada 6 buah hadits. Hadits Pertama (ke-14) : Dari Jundab -Jundub-, dia berkata : Aku pernah mendengar Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda lima hari sebelum beliau wafat : إنِّي أبْرَأُ إلى اللهِ أنْ يَكونَ لي مِنكُم خَلِيلٌ، فإنَّ اللهِ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا، كما اتَّخَذَ إبْرَاهِيمَ خَلِيلًا، ولو كُنْتُ مُتَّخِذًا مِن أُمَّتي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أبَا بَكْرٍ خَلِيلًا، ألَا وإنَّ مَن كانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أنْبِيَائِهِمْ وصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، ألَا فلا تَتَّخِذُوا القُبُورَ مَسَاجِدَ، إنِّي أنْهَاكُمْ عن ذلكَ. "Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah dari mengambil diantara kamu sebagai khalilku (kekasih). Karena sesungguhnya Allah telah mengambilku -menjadikanku- sebagai khalil-Nya, sebagaimana Allah telah mengambil Ibrahim sebagai khalil-Nya. Kalau seandainya aku boleh mengambil dari umatku sebagai khalilku, pastilah aku mengambil Abu Bakar sebagai khalilku. Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang sebelum kamu telah menjadikan kubu Nabi-Nabi mereka dan kubur orang-orang yang shalih diantara mereka sebagai masjid-masjid. Ingatlah, maka janganlah kamu menjadikan kubur-kubur itu sebagai Masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari mengerjakan yang demikian itu." (HR. Imam Muslim no.532) Hadits Kedua (ke-15) : Dari Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiyallahu 'anha, dia berkata : Sesungguhnya Ummu Habibah dan Ummu Salamah (keduanya juga Ummul Mukminin), keduanya menerangkan tentang gereja yang mereka lihat di negeri Habsyah (Ethiopia) yang di dalamnya terdapat patung-patung. Lalu keduanya menerangkan kepada Nabi Shalallahu 'alayhi wa sallam, maka beliau bersabda : إنَّ أُولَئِكَ إذَا كانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ، بَنَوْا علَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وصَوَّرُوا فيه تِلكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَومَ القِيَامَةِ. "Sesungguhnya mereka itu, apabila ada diantara mereka seorang yang shalih wafat, kemudian mereka bangun dikuburnya Masjid dan mereka buat di dalamnya patung-patung, maka mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat." (HR. Imam Bukhari no. 427, 434, 1341 dan 3873, Imam Muslim no. 258 dan Imam An-Nasa'i no. 704 dan selain mereka) Hadits Ketiga (ke-16) : Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda: لعنةُ اللهِ على اليهودِ والنصارى اتخذوا قبورَ أنبيائِهم مساجدَ "Laknat Allah atas Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kubur-kubur Nabi-nabi mereka sebagai Masjid-masjid. " (HR. Imam Bukhari no. 436, 1330, 1390, 3454, 4441, 4444 dan 5816, Imam Muslim no. 531 dan Imam An-Nasa'i no. 703 dan yang selain mereka dari jalan/hadits 'Aisyah dan Abdullah bin Abbas) Hadits Keempat (ke-17) : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda: قاتل اليهود اتخذوا فبور أنبيا ئهم مساجد. "Semoga Allah membinasakan Yahudi yang telah menjadikan kubur-kubur Nabi-nabi mereka sebagai Masjid-masjid." (HR. Imam Bukhari no. 437, Imam Muslim no. 530, Imam Abu Dawud no. 3227 dan Imam An-Nasa'i no. 2047 dan selain mereka) Dalam satu riwayat Imam An-Nasa'i dan Imam Muslim : ...لعن الله اليهود والنصارى (Allah melaknat Yahudi dan Nashrani....) Diantara fikih hadits, maksud menjadikan kubur sebagai masjid ialah : 1. Membangun Masjid di kubur atau disekitar kubur. 2. Mengubur mayit di masjid atau di sekitar yakni halaman Masjid. 3. Menjadikan kubur sebagai tempat untuk ibadah seperti berdo'a -kecuali mendo'akan mayit- dan lain-lain yang di datangi pada waktu-waktu tertentu Hadits Kelima (ke-18) : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : لا تجعلوا بيوتَكُم قبورًا، ولا تجعلوا قَبري عيدًا، وصلُّوا عليَّ فإنَّ صلاتَكُم تبلغُني حَيثُ كنتُمْ "Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu seperti kuburan, dan janganlah kamu jadikan kuburku sebagai 'ied (tempat perayaan). Akan tetapi bershalawat kepadaku, karena sesungguhnya shalawat kamu itu akan sampai kepadaku dimana saja kamu berada." (Hadits Hasan, riwayat Imam Abu Dawud no. 2042 dan Imam Ahmad 2/367) Hadits Keenam (ke-19) : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam (beliau bersabda) : اللَّهمَّ لا تَـجْعَلْ قَبْري وَثَنًا، لعَنَ اللهُ قَوْمًا اتَّـخَذوا قُبورَ أَنْبِيائِهم مَساجِدَ. "Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah. Karena Allah melaknat kaum yang menjadikan kubur-kubur Nabi-nabi mereka sebagai Masjid-masjid." (Hadits Hasan yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dan Imam Al-Humaidi juga dimusnadnya) Berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lainnya bahwasanya masjid dan kuburan terpisah.Hadits ini juga menunjukkan tidak ada membaca Al-Qur'an di kuburan, juga berdasarkan hadits-hadits yang lainnya. Adapun kondisi kubur Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam: 1. Kuburan Nabi di rumah beliau, karena ada hadits yang menjelaskan bahwa setiap Nabi dikubur dimana tempat wafatnya. Beliau Shallallahu 'alayhi wa wafat di rumah 'Aisyah Radhiyallahu 'anha. 2. Perluasan terjadi ketika para sahabat semua telah wafat, khalifah ketika itu melakukan perluasan masjid sehingga rumah 'Aisyah masuk ke dalam perluasan. Ada beberapa tabi'in yang mengingkari, namun tetap dilakukan perluasannya. Bolehkah kita shalat di masjid Nabawi? Kan ada kubur Nabi? Jawabannya ini kekhususan, dan masjid Nabawi memiliki keutamaan, sebagaimana Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Lanjut Bab ke-6 : Orang Yang Sampai Mati Tidak Beriman Kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم Padahal Da'wah Yang Shahih Telah Sampai Kepadanya Maka Dia Termasuk Penghuni Neraka Dan Kekal Di Dalamnya Selama-lamanya. (Lihat halaman 71 pada buku Manhaj dan Aqidah) Hadits Kedua puluh: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam sesungguhnya beliau bersabda : و الذي نفْسُ محمدٍ بيدِهِ ، لا يسمعُ بي أحدٌ من هذه الأمةِ ، لا يهودِيٌّ ، و لا نصرانِيٌّ ، ثُمَّ يموتُ ولم يؤمِنْ بالذي أُرْسِلْتُ به ، إلَّا كان من أصحابِ النارِ "Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, tidak seorang pun juga dari umat ini yang mendengar kedatangan aku, baik Yahudi maupun Nashrani, kemudian sampai mati dia tidak beriman dengan kerasulanku, melainkan dia termasuk penghuni neraka." (Hadist Shahih. Dikeluarkan oleh Imam Muslim no. 153) Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam, karena sebab : 1. Senantiasa bersama Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam. 2. Berkat do'a kepada Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam kepada beliau. 3. Mukjizat Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam, ketika Abu Hurairah mengeluhkan tentang beliau sering lupa. Ketika Nabi bersabda, Abu Hurairah seolah-olah menampung sabda Nabi tersebut dengan bajunya, setelah itu beliau peluk ke dadanya. Berkat mukjizat ini, Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu tidak menjadi lupa (kuat hafalan beliau) 4. Ahli hadits pertama dalam Islam, atas persaksian Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam. Meskipun termasuk terakhir masuk Islam sekitar tahun ke-7 Hijriyah, sejak itu beliau selalu bersama Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam. Meninggalkan kemewahan di Yaman untuk bisa hidup di Madinah. Gigihnya dan meminta kepada Nabi agar ibu beliau memeluk agama Islam. Hadits ini adalah hadits perintah untuk mendakwahkan agama ini, dengan syarat harus bersumber dari Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam. Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam mendakwahkan kepada raja-raja dunia ketika, sehingga banyak yang datang ke Madinah yang banyak untuk mempelajari Islam. Musailamah Al-Kadzab juga pernah menjumpai Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam, namun petunjuk tidak masuk ke relung hatinya, karena ia hanya menginginkan kekuasan setalah Nabi wafat. Lanjut ke Bab ke-7 : Semua Agama Para Nabi dan Rasul Adalah Satu/Sama Yaitu Islam. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: إِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَأَنَا۠ رَبُّكُمْ فَٱعْبُدُونِ "Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Rabb-mu, maka sembahlah Aku." (QS. Al-Anbiya' : 92) Ibnu Abbas, Mujahid, Sa'id bin Jubair, Qatadah dan lain-lain dari para Ulama Shahabat dan Tabi'in telah menafsirkan firman Allah Ta'ala ini (Tafsir Al-Hafizh Ibnu Katsir. Dan Atsar dari Ibnu Abbas diantaranya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir di kitab tafsirnya dalam menafsirkan ayat diatas) bahwa semua agama para Nabi dan Rasul dari Nabi Adam 'Alayhissalam sampai Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam adalah satu, yaitu dinul Islam, sebagaiman Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam bersabda: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : "Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda: أنا أولى الناسِ بعيسى ابنِ مريمَ في الدنيا والآخرةِ، والأنبياءُ إخوةٌ لعلَّات، أمهاتُهم شتَّى ودينُهم واحد "Aku adalah orang yang paling dekat kepada Isa bin Maryam di dunia dan di akhirat, dan para Nabi itu saudara sebapak lain ibu, sedangkan agama mereka satu." (HR. Imam Bukhari no. 3442 dan 3443, juga Imam Muslim no. 2365, lafaz ini milik Imam Bukhari) Nabi Isa 'Alayhissalam yang paling dekat Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam, baik di dunia dan di akhirat, disebabkan : 1. Jarak paling dekat dengan Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam, karena antara Nabi Isa dengan Nabi Muhammad 2. Yang memberi kabar terakhir, bahwa akan ada Nabi terakhir yang termaktub di Taurat dan Injil. Di dalam surah Shaf : وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (6) Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, "Ini adalah sihir yang nyata.” 3. Nasabnya sama, sama-sama keturunan Nabi Ibrahim 'Alayhissalam. 4. Agamanya sama, dakwahnya sama, mengajak untuk mengibadahi Allah Subhanahu wa Ta'ala. diketik oleh : Abu Abdillah Rahmat Silaturahim

SYARH AQIDAH DAN MANHAJ 3

menjadikan umat muwahid, taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 2. Ilmu fardhu 'ain. Yaitu amalan yang diwajibkan setiap pribadi. Seperti shalat, puasa bulan Ramadhan, zakat, haji dan umroh dan segala yang berkaitan dengan ibadah tersebut, seperti wudhu' ketika hendak mau shalat. Begitu juga mengetahui apa-apa saja yang diharamkan. 3. Berkaitan dengan pekerjaan kita. Seperti seorang pedagang harus belajar fiqih dagang. Sebagai pemimpin harus mempelajari ilmu sebagai seorang pemimpin, dan begitu seterusnya. 4. Ilmu fardhu kifayah. Tidak wajib setiap muslim mempelajarinya, mesti ada yang mewakili dari penuntut-penuntut ilmu agama. Pelajaran di lanjutkan ke Bab (3) : Kewajiban Ittiba' (Mengikuti) Rasulullah صلى الله عليه وسلم (silahkan lihat hal.51 bagi yang memiliki kitab Manhaj dan Aqidah) Firman Allah جل ذكره : قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (32) Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu," Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir." (QS. Ali-Imran : 31-32) Bukti cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam. Ini ayat ujian atau pembuktian dari kadar cinta seseorang kepada Rabbul'alamin dengan mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi. Buahnya : 1. Mendapatkan cinta Allah Subhanahu wa Ta'ala, jika Allah telah mencintai seorang hamba maka berbahagialah ia dunia dan di akhirat. 2. Mendapat ampunan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsir beliau : Ayat yang mulia ini menilai setiap orang yang mengakui dirinya cinta kepada Allah, sedangkan sepak terjangnya bukan pada jalan yang telah dirintis oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi Wasallam; bahwa sesungguhnya dia adalah orang yang dusta dalam pengakuannya, sebelum ia mengikuti syariat Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam dan agama yang dibawanya dalam semua ucapan dan perbuatannya. Seperti yang disebutkan di dalam hadis shahih, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda: «مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ» "Barang siapa yang melakukan suatu amal perbuatan yang bukan termasuk tuntunan kami, maka amalnya itu ditolak." Ketahuilah, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala hanya di ibadahi dengan apa yang telah Allah yang disyariatkan-Nya melalui lisan Nabi Shallallahu'alayhi wa sallam dan tidak di ibadahi dengan sesuatu yang tidak disyariatkan-Nya melalui lisan Nabi-Nya. Jadi Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak boleh di ibadahi dengan yang haram, makruh dan bid'ah. Kalau kita tidak mengetahui atau karena belum di utus Rasul maka Allah tidak mengazab hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولً "dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS. Al-Isra' : 15) Mengikuti Rasul sepanjang hayat kita begitu juga dengan menuntut ilmu itu sampai akhir hayat kita. Syaikhul Islam pernah berkata kepada muridnya Imam Ibnul Qayyim: "Sesungguhnya aku sampai sekarang, masih memperbaharui keimananku, karena keislamanku tidak pernah bagus." Pengakuan seorang paham agama akan kadar dirinya. Lalu bagaimana dengan kita??? Hadits Kedua belas : Dari Abdullah bin Tsabit, dia berkata : Umar bin Khattab pernah datang menemui Nabi صلى الله عليه وسلم, lalu dia berkata : يا رسول الله إني مررت بأخ لي من قريظة، فكتب لي جوامع من التوراة ألا أعرضها عليك؟ قال: فتغيّر وجه رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال عبد الله بن ثابت: فقلت له: ألا ترى ما بوجه رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ فقال عمر: رضينا بالله رباً، وبالإسلام ديناً، وبمحمد رسولاً. قال: فسري عن النبي صلى الله عليه وسلم، وقال: " والذي نفس محمد بيده لو أصبح فيكم موسى ثم اتبعتموه وتركتموني لضللتم، إنكم حظي من الأمم وأنا حظكم من النبيين. "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku melewati saudaraku dari Bani Quraizhah, kemudian dia menulis untukku kumpulan dari kitab Taurat, maukah aku perlihatkan kepadamu? Berkata Abdullah bin Tsabit: "Maka berubahlah wajah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, maka aku berkata kepada Umar : Apakah engkau melihat perubahan wajah pada Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam?. Kemudian Umar berkata : Kami ridha Allah Ta'ala sebagai Rabb kami, dan Islam agama kami, dan Muhammad sebagai Rasul kami. Maka hilanglah duka cita dari Nabi صلى الله عليه وسلم, kemudian beliau bersabda : "Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, kalau sekiranya Musa berada ditengah-tengah kamu, kemudian kamu mengikutinya dan meninggalkanku, pasti kamu tersesat. Sesungguhnya kamu bagianku dari umat-umat yang sebelum kamu, dan aku adalah bagian kamu dari para Nabi yang sebelumku." (Hadits shahih lighairihi, dalam musnad Imam Ahmad, takhrijnya ada pada buku Manhaj & Aqidah pada halaman 54) Fiqih hadits (secara ringkas pada hal. 55-56 pada buku Manhaj & Aqidah) : 1. Kewajiban mengikuti Syari'at dan Sunnah serta Manhaj Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam lahir dan batin, perkataan dan perbuatan. 2. Setiap Nabi mempunyai Syari'at dan Sunnah yang wajib diimani oleh umatnya. 3. Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam adalah Nabi terakhir yang diutus kepada seluruh manusia dan jin serta menjadi rahmat bagi sekalian alam. 4. Sungguh hadits yang mulia ini merupakan peringatan keras kepada setiap orang yang menyalahi dan menyelisihi Sunnah Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam baik i'tiqadiyyah (keyakinan) maupun amaliyyah (perbuatan). Hati-hati zaman sekarang banyak ruwaibidhah (berbicara agama tanpa ilmu) di media. Ambillah dari Ustadz yang dikenal dengan keilmuannya, bukan yang di ustadz-kan. Lanjut ke Bab-4 : Larangan Ithra' Kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Ithra' adalah pujian yang melampaui batas. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْحَقَّ ۚ إِنَّمَا ٱلْمَسِيحُ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ ٱللَّهِ وَكَلِمَتُهُۥٓ أَلْقَىٰهَآ إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ ۖ فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ۖ وَلَا تَقُولُوا۟ ثَلَٰثَةٌ ۚ ٱنتَهُوا۟ خَيْرًا لَّكُمْ ۚ إِنَّمَا ٱللَّهُ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ سُبْحَٰنَهُۥٓ أَن يَكُونَ لَهُۥ وَلَدٌ ۘ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا "Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara." (QS. An-Nisa' : 171) Orang-orang ahli kitab mengatakan dan mengangkat Isa sebagai Allah atau anak Allah!? Padahal Isa adalah seorang Nabi dari Nabi-Nabi Allah, bukan Allah seperti perkataan dan keyakinan orang-orang Nashrani. Orang Yahudi juga berlebihan terhadap Uzeir yang mengangkatnya menjadi anak Allah, menjadikan anak sapi sebagai sesembahan. Begitu juga firqoh-firqoh yang tersesat dalam agama ini. Mereka ghuluw. Di ayat lain, قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوٓا۟ أَهْوَآءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا۟ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا۟ كَثِيرًا وَضَلُّوا۟ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus". (QS. Al-Maidah : 77) Islam adalah pertengahan antara Yahudi dan Nashrani, tidak mengurangi dan tidak berlebihan. Begitu juga Ahlussunah pertengahan diantara firqoh-firqoh sesat. Seperti Syi'ah yang mengangkat Ali menjadi Tuhan atau mengangkatnya menjadi imam yang ma'shum. Khawarij mengkafirkan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu. Mereka juga mengkafirkan pelaku dosa besar, dan menghalalkan jiwa dan harta kaum Muslimin. Begitu juga jangan sampai mengikuti guru-guru yaitu guru-guru sesat yang lebih dahulu tersesat, dan mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia. Ayat diatas menjelaskan bahwa agama orang-orang Nashrani dibina atas dasar taqlid buta kepada guru-guru penyesat. Ilmu itu beredar pada Al-Qur'an, hadits dan perkataan sahabat. Hadits Ketiga belas : Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma, dia mendengar Umar Radhiyallahu 'anhu berkata diatas mimbar : "Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda : لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم، فإنما أنا عبده، فقولوا : عبده الله ورسوله "Janganlah kamu memujiku berlebihan sehingga melampaui batas sebagaimana Nashara telah melampaui batas dalam memuji Isa bin Maryam. Maka sesungguhnya aku ini tidak lain hanyalah hamba-Nya. Oleh karena itu katakanlah bahwa aku ini adalah hamba Allah dan Rasul-Nya." (HR. Imam Bukhari) Pujian Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam, diantaranya : 1. Nabi Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ "Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." (QS. Saba’ : 28) 2. Nabi di utus sebagai rahmatan Lil 'Alamiin. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107) 3. Shalawat kepada Nabi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab : 56) 4. Akhlak Nabi yang agung. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam : 4) Akhlak beliau Shallallahu 'alayhi wa sallam berada pada puncak akhlak yang paling tinggi, tidak ada yang bisa menyainginya dari semua yang berakhlak. Hendaklah berdakwah dengan lemah lembut, sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam berdakwah, sehingga umat amat mudah menerima dakwah yang haq ini. Diketik oleh : rahmat silaturahim

SYARAH AQIDAH MANHAJ 2

SESI KE-2 PEMBAHASAN KITAB MANHAJ & AQIDAH [Bersama Ustadzuna Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah Ta'ala di masjid Raudhatul Jannah - Pekanbaru] Islam merupakan agama yang lengkap dan sempurna tidak membutuhkan penambahan dan pengurangan dari siapa pun juga. Pernah terjadi dialog antara sahabat yang mulia, yakni Salman Alfarisi Radhiyallahu 'anhu dengan orang musyrikin. قَالُوا لِسَلْمَانَ : قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَىْءٍ حَتَّى الْخَرَاءَةَ. فَقَالَ : أَجَلْ ، قَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ ، وَنَهَانَا أَنْ يَسْتَنْجِىَ أَحَدُنَا بِأَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ ، وَنَهَانَا أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ. رَوَاهُ مُسْلِم Mereka bertanya kepada Salman, “Sungguh nabi kalian telah mengajarkan kalian segala sesuatunya sampai-sampai cara buang hajat?” Salman menjawab, “Benar! Beliau telah melarang kami untuk menghadap kiblat baik ketika buang air besar maupun buang air kecil dan melarang kami untuk beristinja’ (membersihkan kotoran) dengan batu kurang dari tiga biji, dan melarang kami beristinja’ dengan kotoran hewan atau tulang.” (HR. Imam Muslim) Jalan kebaikan dalam Islam sangat banyak, jangankan masalah yang pokok lagi penting, yakni masalah akidah dan keimanan, masalah yang remeh lagi sepele, seperti buang hajat diatur dalam agama Islam. Untuk itu kita diperintahkan oleh Rabbul'alamin menganut Islam secara kaffah, firman-Nya : يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah: 208) Dan asas yang paling utama adalah manhaj dan aqidah karena ini pintu utama yang mau memasukinya secara menyeluruh, jika tidak maka akan terjadi kerancuan di dalam beragama. Di ayat yang lain, يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ . إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِٱلسُّوٓءِ وَٱلْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 168-169) Syaithan mengajak kepada perbuatan jahat, lalu naik ke perbuatan keji dan naik lagi kepada kerusakan terparah yaitu mengatakan tentang Allah tanpa ilmu. Walhasil, muncullah kekufuran, kesyirikan, firqoh-firqoh sesat dan yang lainnya, karena berbicara tanpa ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di dalam hadits Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam disebutkan, إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّـى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا. "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang jahil sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain." (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim) Dari hadits ini kita mengetahui betapa tinggi dan mulianya ilmu. Di hadits lain, مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ. ‘Di antara tanda-tanda Kiamat adalah hilangnya ilmu dan tersebarnya kejahilan.’” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim) Yang membedakan dakwah ini yang hakiki dengan dakwah-dakwah yang lain adalah di dalam manhaj dan aqidah. Contoh : Terjadi dialog antara Imam Asy-Syafi'i rahimahullah dengan Bisyr. Kemudian Imam asy Syafi’i berkata kepada Bisyr: “Jelaskan kepadaku tentang apa yang kau dakwahkan (:yaitu al Qur’an adalah makhluk)!. Apakah ada al Qur’an yang berbicara tentangnya, atau kewajiban yang diwajibkan syariat, atau sunnah yang menjadi dalil, atau engkau dapati dari salaf19 membahasnya dan mempertanyakannya?” Kemudian Bisyr berkata: “Tidak, kecuali hanya kami tidak bisa menyelisihi (pendapat al Qur’an adalah makhluk)” Kemudian Imam asy Syafi’i berkata: “Apakah engkau mengikrarkan dirimu berada dalam kesalahan?, dimana posisi anda dari ilmu fiqih dan hadits?, apakah anda lebih memihak manusia dan meninggalkan ilmu ini?” Bisyr berkata: “Kami memiliki kesenangan didalam (ilmu kalam)” Ketika Bisyr telah keluar, maka Imam asy Syafi’i berkata: “Ia tidak akan beruntung” (Lihat Siyar A’lamin Nubala’, imam Adz-Dzahabi) Dari dialog diatas, Imam Asy-Syafi'i rahimahullah menanyakan : Apakah ada pada Kitabullah (Al-Qur'an)? Apakah ada pada Sunnah? Apakah ada dari kaum salaf (mulai dengan gurunya sendiri Imam Malik terus sampai ke atas sampai ke sahabat Nabi)? Tidak bisa berbohong, Bisyr berlandaskan dengan dengan akalnya, itu makanya ahlul bid'ah dikatakan ahlul hawa. Lihat hadits di halaman 477, pada buku Manhaj dan Aqidah, dari Shafwan, dia berkata : telah menceritakan kepadaku Azhar bin Abdullah Al-Hawzani atau Al-Harazi, dari Abu Amir Abdullah bin Luhai, dia berkata :Kami pernah menunaikan ibadah haji bersama Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Maka ketika kami datang ke Makkah beliau berdiri khutbah setelah shalat Zhuhur, beliau pernah mengatakan : " Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda : إنَّ أهلَ الكتابَينِ افترقوا في دينِهِم علَى ثنتَينِ وسبعينَ مِلَّةً ، وإنَّ هذِهِ الأُمَّةَ ستفترقُ علَى ثلاثٍ وسبعينَ مِلَّةً - يعني الأَهْواءَ - كلُّها في النَّارِ إلَّا واحدةٌ ، وَهيَ الجماعةُ ، وإنَّهُ سيخرجُ في أمَّتي أقوامٌ تجاري بِهِم تلكَ الأهواءُ ، كما يتجارَى الكَلبُ بصاحبِهِ ، لا يبقَى منهُ عِرقٌ ولا مِفصلٌ إلَّا دخلَهُ . واللَّهِ - يا معشرَ العربِ - لئن لم تقوموا بما جاءَ بِهِ نبيُّكم صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ لغَيرُكم مِن النَّاسِ أحرَى ألَّا يقومَ بِهِ "Sesungguhnya dua ahli kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua sekte dan sesungguhnya umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga. Semuanya berada di dalam neraka kecuali satu, yaitu al-jama’ah. Dan bahwa akan muncul suatu kaum di umatku yang akan dijangkiti hawa nafsu, sebagaimana penyakit anjing gila (rabies) menjalari penderitanya.” ‘Amr berkata, “Rabies menjalari penderitanya. Tidak tersisa satu pembuluh darah pun dan tidak pula satu sendipun kecuali dimasukinya.” Berkata Mu'awiyah: "Demi Allah hai bangsa Arab, sungguh jika kamu tidak mengamalkan yang dibawa oleh Nabi-mu Shallallahu 'alayhi wa sallam, niscaya manusia selain kamu (bangsa-bangsa selain dari Arab) lebih tidak mengamalkan lagi. (HR. Imam Abu Dawud dan selainnya) Hadits di atas adalah mukadimah untuk melapangkan jalan kita untuk membahas kitab "Manhaj dan Aqidah" ini. Mari kita mulai untuk mempelajari dari bab (1). "Dosa Orang Yang Berdusta Atas Nama Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam. Pada bab ini dibawakan 10 hadits ditambah satu hadits di bab kedua (hadits ke-11). Berbohong atau berdusta atas Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam tidak sama dengan berdusta atas nama orang lain. Berdusta atas nama Nabi akan mempengaruhi ibadah seseorang kepada Rabb-nya. Contoh : حب الوطن من الإيمان “Cinta tanah air adalah bagian dari iman”. Hadits ini palsu, tidak ada asal usulnya. Namun hadits ini xepat beredar, sehingga diyakini itu dari Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam. Padahal cinta tanah air, kota, negara merupakan tabi'at setiap diri, bahkan orang kafirpun mencintai negerinya. Hadits Pertama : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda : مَن كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ "Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka." (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim, hadits ini mutawatir) Hadits Kedua : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : "Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam telah bersabda : ومن تقوَّلَ عليَّ ما لم أقُلْ، فليتبوَّأ مقعدَهُ منَ النَّارِ "Barangsiapa yang membuat perkataan atas namaku yang sama sekali tidak pernah aku katakan, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka." (HR. Imam Ahmad dan Imam Ibnu Majah) Hadits Ketiga : Dari Salamah Al-Akwa', dia berkata : "Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda: مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ "Barangsiapa yang mengatakan atas namaku apa saja yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka." (HR. Imam Bukhari) Dari hadits pertama, kedua dan ketiga menunjukkan hadits ini diulang-ulang dan hadits ini merupakan hadits yang paling mutawatir diriwayatkan oleh seluruh ahli hadits. Hadits Keempat : Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : "Sesungguhnya yang menghalangiku menceritakan hadits yang banyak kepada kamu ialah karena Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam telah bersabda : من تعمد علي كذبا فليتبوأ مقعده من النار "Barangsiapa yang dengan sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka." (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim) PERHATIKAN !!! Betapa hati-hatinya Anas bin Malik dalam meriwayatkan hadits Nabi karena ancaman ini, padahal beliau lebih sepuluh tahun berkhidmat kepada Nabi, salah satu sahabat yg paling banyak meriwayatkan hadits. Hadits Kelima : Dari Amir bin Abdullah bin Zubair, dari bapaknya (Abdullah bin Zubair) dia berkata : " Aku pernah mendengar kepada Zubair bin Awwan : Mengapa aku tidak pernah mendengar engkau menceritakan (hadits yang banyak) dari Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam sebagaimana dari Ibnu Mas'ud serta Fulan dan Fulan?" Beliau menjawab : "Adapun aku sejak masuk Islam, aku tidak pernah berpisah dari Rasulullah Shallallahu'alayhi wa sallam. Akan tetapi aku pernah mendengar dari beliau satu kalimat yaitu beliau bersabda : من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار "Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka." (Muttafaqun 'alayhi) Zubair bin Awwan Radhiyallahu 'anhu diantara 10 orang sahabat dijamin masuk surga. Masih perlu hati-hati, hanya membawakan hadits yang Tsabit dari Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam. Bagaimana dengan kita?? Yang dengan serampangan membawakan hadits yg tidak mengetahui sah atau tidak sahnya. Hadits Keenam : Dari Abdullah bin 'Amr, dia berkata : "Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda : بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ. "Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra'il dan itu tidak apa (dosa). Dan barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Imam Bukhari, Imam At-Tirmidzi, Imam Ahmad dan lainnya) PERHATIKAN!!! Nabi mengulang-ulang sabda beliau di banyak majelis beliau agar menjaga kemurnian Islam salah satunya ancaman berbohong atas Nabi yang mulia. Karena jika disandarkan kepada beliau akan diikuti oleh jutaan umat sepanjang zaman . Hadits Ketujuh : Dari Ali bin Abi Thalib, dia berkata : "Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda : لا تكذِبُوا عليَّ ، فإنَّهُ مَنْ يكذبُ عليَّ فلْيلِجِ النَّارَ "Janganlah kamu berbohong atas namaku, sesungguhnya barangsiapa yang berbohong atas namaku hendaklah ia masuk ke dalam neraka." (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim) Hadist Kedelapan : Dari Mughirah bin Syu'bah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda : إنَّ كَذِبًا عَلَيَّ ليسَ كَكَذِبٍ علَى أَحَدٍ، مَن كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ "Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama berdusta kepada orang lain. Maka barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan senagaja, hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka. " (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim) Banyak hadits tidak berasal dari Nabi tapi diyakini dari beliau oleh umat, karena tidak pahamnya mereka tentang keabsahan suatu hadits. Hadits Kesembilan : Dari Watsilah bin Al-Asqa Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda : إنَّ مِن أعْظَمِ الفِرَى أنْ يَدَّعِيَ الرَّجُلُ إلى غيرِ أبِيهِ، أوْ يُرِيَ عَيْنَهُ ما لَمْ تَرَ، أوْ يقولُ علَى رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ما لَمْ يَقُلْ "Sesungguhnya sebesar-besarnya dusta ialah seseorang seorang yang mengaku berbapak kepada yang bukan bapaknya. Atau dia mengatakan telah diperlihatkan kepada matanya apa yang matanya bukan itu tidak pernah melihatnya (dia mengaku bermimpi dan melihat sesuatu dalam mimpinya itu padahal sebenarnya bohong). Di dalam riwayat yang lain : Atau dia mengatakan telah diperlihatkan kepada kedua matanya dalam tidur mimpinya apa yang tidak dilihat oleh kedua matanya. Atau dia mengatakan atas nama Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa salam apa-apa yang beliau tidak pernah sabdakan. Berbohong terbesar dari setelah berbohong atas nama Allah Subhanahu wa Ta'ala, adalah berbohong atas nama Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam." (HR. Imam Bukhari dan Imam Ahmad) Hadits ke 10 : Dari Abu Bakar Salim, dari bapaknya, dari kakeknya, dia berkata: "Bahwasany Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa telah bersabda : إن الذي يكذب علي يبنى له بيت في النار "Sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam neraka." (HR. Imam Ahmad) Sepuluh hadits ini merupakan ancaman bagi yang berdusta atas nama Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam. Hadits ke sebelas ancaman membuat hadits palsu. Hadits Kesebelas : Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam bersabda: مَنْ حَدَّثَ عَنِّيْ بِحَدِيْثٍ يَرَيْ أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ “Barang siapa menceritakan dariku suatu hadis yang dia ketahui kedustaannya, maka dia termasuk di antara dua pendusta.” (HR. Imam Muslim ) Sebelumnya si bawakan firman Allah pada Bab (2). Hadits Masyhur Tentang Ancaman Membawakan Hadits-Hadits Maudhu' وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب "Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa , dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. Al Maidah : 2) Jika tidak merujuk kepada ahli hadits maka mereka akan saling tolong menolong dalam berbuat pelanggaran .... Bagitu juga pelaku bid'ah, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa membuat suatu perkara baru (bid'ah) dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim) Ada yang beralasan tidak membuat bid'ah maka diancam juga dengan riwayat berikut : من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد "Dan barangsiapa yang melakukan suatu amal perbuatan yang tidak sesuai dengan tuntunanku maka dia tertolak." (HR. Imam Muslim) Berita yang beredar ada yang benar dan ada yang bohong terlebih di zaman media ini, jangan kita sampai gegabah di dalam men-share postingan, sebelum jelas bagi kita keabsahannya. Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda: كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ “Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar." (HR. Imam Muslim) Agar tidak asal-asalan atau gampang meriwayatkan hadits dari Rasulullah. Kalau selain hadits Bukhari dan Muslim maka ditanyakan keshahannya (Shahih atau dha'if) In syaa Allah, bersambung ke sesi-3.... diketik oleh : rahmat silaturahim

SYARAH AQIDAH MANHAJ UST ABDUL HAKIM bag1

PEMBAHASAN KITAB MANHAJ & AQIDAH (sesi ke-1) [Bersama Ustadzuna Abu Unaisah bin Amir Abdat hafizhahullah Ta'ala, di masjid Umar bin Khattab Pekanbaru] Hidayah taufiq adalah hidayah ilmu dan amal. Sebagaimana yang selalu kita minta setiap kali menegakkan shalat fardhu dan sunat di dalam surah Al-Fatihah: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ "Tunjukilah kami jalan yang lurus." (Al-Fatihah : 6) Di awal surah Al-Baqarah dijelaskan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk, tidak ada keraguan dan kebimbangan padanya : الٓمٓ. ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ "Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah : 1-2) Petunjuk bagi orang bertakwa dan petunjuk bagi manusia, شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ... "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)...." (QS. Al-Baqarah: 185) Tidak ada keraguan berarti nyata (mubin), terang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman agar kita mentadabburi Al-Qur'an: أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُوا۟ فِيهِ ٱخْتِلَٰفًا كَثِيرًا "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (QS. An-Nisa : 82) Ayat ini menjelaskan tidak ada kontradiksi ayat dengan ayat. Di ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman di ayat lain : أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?" (QS. Muhammad: 24) Tidak ada keraguan dari sisi Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ "Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu." (QS. Al-Baqarah : 147) Al-Qur'an petunjuk bagi manusia dan bagi orang yang bertakwa. Takwa adalah seseorang yang mengerjakan amalan diatas cahaya Allah dan meninggalkan larangan juga diatas cahaya-Nya, yaitu Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam. Hidayah ke jalan yang lurus, ditafsirkan ke ayat selanjutnya: صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ "(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (Al-Fatihah : 7) Dijelaskan oleh ulama ahli tafsir orang yang diberi nikmat adalah para Nabi, adapun orang dimurkai adalah orang-orang Yahudi dan tersesat adalah orang-orang Nashrani. Dari pembahasan ini maka ditulislah kitab "Manhaj dan Aqidah". Ini adalah kitab kedua terdiri dari bab-bab mengenai Manhaj dan Aqidah yang terdiri 140 Bab & 321 Hadits, yang pertama adalah kitab Zuhud dan ar-Raqaaiq. Kitab ketiga adalah Kitab Al-Ilmu. Kitab Manhaj dan Aqidah lebih besar dibandingkan kitab Zuhud dan Raqaaiq, dan kitab Al-Ilmu Kitab Manhaj & Aqidah menunjukkan bahwa manhaj dan aqidah berbeda, meskipun ada ulama yang berpendapat sama antara manhaj dan aqidah. Karena ada yang aqidah benar namun caranya beragama khawarij. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ الْحَقِّۗ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ "Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan." (QS. Al-Maidah : 48) Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma menafsirkan kalimat " شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا " adalah jalan dan tuntunan. Syari'at dan Manhaj Nabi Muhammad berbeda dengan para Nabi-nabi sebelumnya. Nabi-nabi sebelumnya diutus hanya umatnya saja, sedang Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam untuk seluruh manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ "Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." (QS. Saba’ : 28) Agama Islam merupakan agama yang sempurna. Kesempurnaan agama ini terdapat pada ayat, ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Maidah : 3) Ayat yang mulia ini turun ketika di Arafah pada saat Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam menunaikan ibadah haji. Pada kitab Manhaj dan Aqidah ini ada 10 hadits dibawakan mengenai kesempurnaan agama Islam. Sebagaimana yang terjadi pada zaman Umar bin Khaththab, ketika itu beliau Radhiyallahu ‘anhu memegang dan membaca lembaran Taurat, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : أَمُتَهَوِّكُوْنَ فِيْهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ ؟ وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ ، لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةًً ، لاَ تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوْكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ ، أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوْا بِهِ ، وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ ، لَوْ أَنَّ مُوْسَى كَانَ حَيّاً مَا وَسِعَهُ إِلاَّأَنْ يَتَّبِعَنِيْ “Apakah engkau merasa ragu, wahai Umar bin Khaththab? Demi yang diri Muhammad ada di tangan Allah, sungguh aku telah membawa kepada kalian agama ini dalam keadaan putih bersih. Janganlah kalian tanya kepada mereka tentang sesuatu, sebab nanti mereka kabarkan yang benar, namun kalian mendustakan. Atau mereka kabarkan yang bathil, kalian membenarkannya. Demi yang diri Muhammad berada di tanganNya, seandainya Nabi Musa itu hidup, maka tidak boleh bagi dia, melainkan harus mengikuti aku” (HR. Imam Ahmad dalam musnadnya) Seandainya Nabi Musa 'Alayhissalam berada ditengah-tengah Nabi Muhammad Shallallahu'alayhi wa sallam lalu beliau meninggalkan Nabi Shallallahu 'alayhi wa maka Nabi Musa tersesat. Nabi Musa 'Alayhissalam adalah Nabi yang mulia, termasuk Nabi 'Ulul 'Azhmi, yang berbicara langsung dengan Allah tersesat jika tidak mengikuti Nabi Muhammad, apalagi kita mengikuti selain Nabi Musa. Manhaj sahabat adalah manhaj Rasul. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا "Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisa' :115) Jalan orang Mukminin ketika ayat ini turun adalah Sahabat Radhiyallahu 'anhum. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.... (QS. Al-Fath : 29) Manhaj sangat luas karena mencakup seluruh ajaran Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ. "Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahlul Kitab telah berpecah-belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam), akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan hanya satu golongan di dalam Surga, yaitu al Jama’ah." (HR. Imam Ahmad, Imam Abu Dawud dan lainnya) Dalam riwayat lain disebutkan : “…كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَةً وَاحِدَةً: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.” "Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya." (HR. Imam At-Tirmidzi) Allah Subhanahu wa Ta'ala telah meridhoi para Sahabat Radhiyallahu 'anhum. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah : 100) Kita akan mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala jika kita mengikuti Muhajirin dan Anshar dengan baik. Karena manhaj sahabat sama dengan manhaj Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam. عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قاَلَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظًةً وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوْبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُوْنُ فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةً مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati menjadi bergetar dan mata menangis, maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah! Sepertinya ini adalah wasiat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah wasiat kepada kami.’ Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah khulafaur Rasyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” (HR. Imam Abu Daud dan Imam Tirmidzi) Di hadits ini, sahabat diwakilkan oleh sahabat yang paling mulia, yaitu Khulafaur Rasyidin. Diantara hadits yang menyebutkan keutamaan para sahabat: عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘ahnu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam telah bersabda,”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya. (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim) Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda di hadits yang lain, خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ "Sebaik-baik manusia ialah pada zamanku, kemudian zaman berikutnya, dan kemudian zaman berikutnya." (HR. Imam Muslim) Manhaj rusak maka rusaklah aqidahnya. Ada orang belajar tauhid tapi manhajnya haroki, ikhwani bahkan sampai terperosok ke manhaj khawarij. Jika manhaj liberal, maka aqidah beragamanya juga liberal. Pelajaran ini harus diulang-ulang. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا "Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (QS. An-Nisa : 136) Orang beriman diperintah beriman, memperbaharui keimanannya. Untuk itu kita harus belajar terus. Terkadang manhaj bergeser karena pergaulan, kejahilan atau lainnya. Dan kita harus istiqamah, sebagaimana Rabbuna Tabaraka wa Ta'ala berfirman: إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS. Fushshilat : 30) Istiqomah mustahil dicapai tanpa ilmu dan amal. Doa Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam yang sering beliau ucapkan, يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ "Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Imam At-Tirmidzi) Kita harus tetap dalam Islam dan ketaatan, terkadang ada yang tetap berada dalam Islam tapi tidak berada dalam ketaatan. Kitab ini (Manhaj dan Aqidah) disusun merujuk kepada ahlinya dan berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu hadist. Sebagaimana yang dinukilkan pada hal. 27-28, Saya menamakan kitab ini dengan nama : "Kumpulan Hadit-Hadits Shahih Dalam Bab-Bab Manhaj dan Aqidah", karena ia terdiri dari : Pertama : Hadits-haditsnya telah disepakati keshahannya atau ghalib-nya (umumnya) telah disepakati seperti hadits-hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim atau salah satunya. Bahkan pada sebagian haditnya berderajat mutawatir. Kedua : Hadits-hadits shahih yang tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, tetapi hadits tersebut telah disepakati keshahannya, atau para Imam ahli hadits telah menshahkannya atau sebagian dari mereka. Semuanya saya pulangkan kepada ahli-nya dan berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu hadits, إن شاء الله تعالى . Itulah dua syarat yang sangat besar di dalam mentashhih (menshahihkan) dan men-thad'if (mendho'ifkan) suatu hadits, dipulangkan kepada ahli-nya dan berjala sesuai kaidah-kaidah ilmu hadits. Maka ia tertolak jika datang dari yang bukan ahli-nya, dan ia juga tertolak apabila menyalahi kaidah-kaidah ilmu hadits yang telah disepakati walaupun datang dari ahli hadits, apalagi yang bukan ahlinya. Contoh : Hadits masyhur mengadzankan telinga bayi. Imam At-Tirmidzi beliau menshahihkannya, beliau ahlinya. Namun, karena pada sanadnya ada lemah hafalannya. Perawi yang lemah hafalannya maka status haditsnya dha'if atau lemah. Maka tertolak tashhih dari Imam At-Tirmidzi. Bantuannya ada dua hadits dari riwayat yang lain, tapi kedua hadits tersebut palsu, sehingga tidak bisa menaikkan derajat hadits tersebut menjadi hasan atau lainnya. Contoh lain, hadits : اقرأوا على موتاكم يس “Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan meninggal dunia di antara kalian” Hadits ini dha'if karena ada dua orang dari perwainyamajhul (tidak dikenal). Dalam kaidah ilmu hadits perawi yang majhul menjadikan sanadnya dha'if/lemah. Dan karena ada hadits shahih diantaranya : لقنوا موتا كم لا إله إلا الله “Tuntunlah seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat: ‘Laa ilaaha illa Allah’". (HR. Imam Muslim) Dan hadits, من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة “Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah “Laa ilaaha illa Allah” maka akan masuk surga” (HR. Abu Dawud) Pada muqaddimah kitab, penulis (Ustadz Abdul Hakim) menyebutkan, dengan mengawali kitabnya dengan : بسم الله الرحمن الرحيم Sebagaimana Rabbul'alamin memulai Kitab-Nya dengan basmalah dan Nabi yang mulia Shallallahu 'alayhi wa sallam telah menulis surat-surat kepada raja-raja dunia dengan basmalah, demikian juga banyak dari para Imam ahli hadits seperti Imam Malik, Ahmad, Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah dan yang selain mereka dari para Imam ahli hadits banyak sekali yang memulai kitab mereka dengan basmalah. Lalu dilanjutkan dengan sebuah sabda yang besar dari Nabi yang agung lagi sangat mulia Shallallahu 'alayhi wa sallam: إنما الأعمال بالنيات.... "Sesungguhnya segala amal itu tergantung dari niatnya...." Maksud penulis, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kitab ini hanya mencari wajah-Nya semata yang disifati Kebesaran dan Kemuliaan dalam rangka menghidupkan Sunnah Nabi-Nya yang mulia Shallallahu'alayhi wa sallam yang terkumpul padanya semua ilmu-ilmu Islam.... Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ . وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو ٱلْجَلَٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ "Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." (QS. Ar-Rahman: 26-27) Di ayat yang lain, وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ . إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nyalah mereka melihat." (QS. Al-Qiyamah : 22-23) Kenikmatan paling nikmat di Surga adalah dengan melihat Wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Semoga Allah 'Azza wa jalla mengampuni seluruh dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita dan memasukkan kita ke dalam Surga-Nya dan mendapatkan kenikmatan tertinggi melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala... Aamiin. Diketik oleh : rahmat silaturahim.