PEMBAHASAN KITAB MANHAJ & AQIDAH (sesi ke-1) [Bersama Ustadzuna Abu Unaisah bin Amir Abdat hafizhahullah Ta'ala, di masjid Umar bin Khattab Pekanbaru] Hidayah taufiq adalah hidayah ilmu dan amal. Sebagaimana yang selalu kita minta setiap kali menegakkan shalat fardhu dan sunat di dalam surah Al-Fatihah: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ "Tunjukilah kami jalan yang lurus." (Al-Fatihah : 6) Di awal surah Al-Baqarah dijelaskan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk, tidak ada keraguan dan kebimbangan padanya : الٓمٓ. ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ "Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah : 1-2) Petunjuk bagi orang bertakwa dan petunjuk bagi manusia, شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ... "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)...." (QS. Al-Baqarah: 185) Tidak ada keraguan berarti nyata (mubin), terang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman agar kita mentadabburi Al-Qur'an: أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُوا۟ فِيهِ ٱخْتِلَٰفًا كَثِيرًا "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (QS. An-Nisa : 82) Ayat ini menjelaskan tidak ada kontradiksi ayat dengan ayat. Di ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman di ayat lain : أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?" (QS. Muhammad: 24) Tidak ada keraguan dari sisi Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ "Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu." (QS. Al-Baqarah : 147) Al-Qur'an petunjuk bagi manusia dan bagi orang yang bertakwa. Takwa adalah seseorang yang mengerjakan amalan diatas cahaya Allah dan meninggalkan larangan juga diatas cahaya-Nya, yaitu Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam. Hidayah ke jalan yang lurus, ditafsirkan ke ayat selanjutnya: صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ "(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (Al-Fatihah : 7) Dijelaskan oleh ulama ahli tafsir orang yang diberi nikmat adalah para Nabi, adapun orang dimurkai adalah orang-orang Yahudi dan tersesat adalah orang-orang Nashrani. Dari pembahasan ini maka ditulislah kitab "Manhaj dan Aqidah". Ini adalah kitab kedua terdiri dari bab-bab mengenai Manhaj dan Aqidah yang terdiri 140 Bab & 321 Hadits, yang pertama adalah kitab Zuhud dan ar-Raqaaiq. Kitab ketiga adalah Kitab Al-Ilmu. Kitab Manhaj dan Aqidah lebih besar dibandingkan kitab Zuhud dan Raqaaiq, dan kitab Al-Ilmu Kitab Manhaj & Aqidah menunjukkan bahwa manhaj dan aqidah berbeda, meskipun ada ulama yang berpendapat sama antara manhaj dan aqidah. Karena ada yang aqidah benar namun caranya beragama khawarij. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ الْحَقِّۗ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ "Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan." (QS. Al-Maidah : 48) Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma menafsirkan kalimat " شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا " adalah jalan dan tuntunan. Syari'at dan Manhaj Nabi Muhammad berbeda dengan para Nabi-nabi sebelumnya. Nabi-nabi sebelumnya diutus hanya umatnya saja, sedang Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam untuk seluruh manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ "Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." (QS. Saba’ : 28) Agama Islam merupakan agama yang sempurna. Kesempurnaan agama ini terdapat pada ayat, ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Maidah : 3) Ayat yang mulia ini turun ketika di Arafah pada saat Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam menunaikan ibadah haji. Pada kitab Manhaj dan Aqidah ini ada 10 hadits dibawakan mengenai kesempurnaan agama Islam. Sebagaimana yang terjadi pada zaman Umar bin Khaththab, ketika itu beliau Radhiyallahu ‘anhu memegang dan membaca lembaran Taurat, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : أَمُتَهَوِّكُوْنَ فِيْهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ ؟ وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ ، لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةًً ، لاَ تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوْكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ ، أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوْا بِهِ ، وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ ، لَوْ أَنَّ مُوْسَى كَانَ حَيّاً مَا وَسِعَهُ إِلاَّأَنْ يَتَّبِعَنِيْ “Apakah engkau merasa ragu, wahai Umar bin Khaththab? Demi yang diri Muhammad ada di tangan Allah, sungguh aku telah membawa kepada kalian agama ini dalam keadaan putih bersih. Janganlah kalian tanya kepada mereka tentang sesuatu, sebab nanti mereka kabarkan yang benar, namun kalian mendustakan. Atau mereka kabarkan yang bathil, kalian membenarkannya. Demi yang diri Muhammad berada di tanganNya, seandainya Nabi Musa itu hidup, maka tidak boleh bagi dia, melainkan harus mengikuti aku” (HR. Imam Ahmad dalam musnadnya) Seandainya Nabi Musa 'Alayhissalam berada ditengah-tengah Nabi Muhammad Shallallahu'alayhi wa sallam lalu beliau meninggalkan Nabi Shallallahu 'alayhi wa maka Nabi Musa tersesat. Nabi Musa 'Alayhissalam adalah Nabi yang mulia, termasuk Nabi 'Ulul 'Azhmi, yang berbicara langsung dengan Allah tersesat jika tidak mengikuti Nabi Muhammad, apalagi kita mengikuti selain Nabi Musa. Manhaj sahabat adalah manhaj Rasul. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا "Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisa' :115) Jalan orang Mukminin ketika ayat ini turun adalah Sahabat Radhiyallahu 'anhum. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.... (QS. Al-Fath : 29) Manhaj sangat luas karena mencakup seluruh ajaran Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ. "Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahlul Kitab telah berpecah-belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam), akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan hanya satu golongan di dalam Surga, yaitu al Jama’ah." (HR. Imam Ahmad, Imam Abu Dawud dan lainnya) Dalam riwayat lain disebutkan : “…كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَةً وَاحِدَةً: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.” "Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya." (HR. Imam At-Tirmidzi) Allah Subhanahu wa Ta'ala telah meridhoi para Sahabat Radhiyallahu 'anhum. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah : 100) Kita akan mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala jika kita mengikuti Muhajirin dan Anshar dengan baik. Karena manhaj sahabat sama dengan manhaj Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam. عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قاَلَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظًةً وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوْبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُوْنُ فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةً مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati menjadi bergetar dan mata menangis, maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah! Sepertinya ini adalah wasiat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah wasiat kepada kami.’ Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah khulafaur Rasyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” (HR. Imam Abu Daud dan Imam Tirmidzi) Di hadits ini, sahabat diwakilkan oleh sahabat yang paling mulia, yaitu Khulafaur Rasyidin. Diantara hadits yang menyebutkan keutamaan para sahabat: عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘ahnu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam telah bersabda,”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya. (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim) Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda di hadits yang lain, خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ "Sebaik-baik manusia ialah pada zamanku, kemudian zaman berikutnya, dan kemudian zaman berikutnya." (HR. Imam Muslim) Manhaj rusak maka rusaklah aqidahnya. Ada orang belajar tauhid tapi manhajnya haroki, ikhwani bahkan sampai terperosok ke manhaj khawarij. Jika manhaj liberal, maka aqidah beragamanya juga liberal. Pelajaran ini harus diulang-ulang. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا "Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (QS. An-Nisa : 136) Orang beriman diperintah beriman, memperbaharui keimanannya. Untuk itu kita harus belajar terus. Terkadang manhaj bergeser karena pergaulan, kejahilan atau lainnya. Dan kita harus istiqamah, sebagaimana Rabbuna Tabaraka wa Ta'ala berfirman: إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS. Fushshilat : 30) Istiqomah mustahil dicapai tanpa ilmu dan amal. Doa Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam yang sering beliau ucapkan, يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ "Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Imam At-Tirmidzi) Kita harus tetap dalam Islam dan ketaatan, terkadang ada yang tetap berada dalam Islam tapi tidak berada dalam ketaatan. Kitab ini (Manhaj dan Aqidah) disusun merujuk kepada ahlinya dan berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu hadist. Sebagaimana yang dinukilkan pada hal. 27-28, Saya menamakan kitab ini dengan nama : "Kumpulan Hadit-Hadits Shahih Dalam Bab-Bab Manhaj dan Aqidah", karena ia terdiri dari : Pertama : Hadits-haditsnya telah disepakati keshahannya atau ghalib-nya (umumnya) telah disepakati seperti hadits-hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim atau salah satunya. Bahkan pada sebagian haditnya berderajat mutawatir. Kedua : Hadits-hadits shahih yang tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, tetapi hadits tersebut telah disepakati keshahannya, atau para Imam ahli hadits telah menshahkannya atau sebagian dari mereka. Semuanya saya pulangkan kepada ahli-nya dan berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu hadits, إن شاء الله تعالى . Itulah dua syarat yang sangat besar di dalam mentashhih (menshahihkan) dan men-thad'if (mendho'ifkan) suatu hadits, dipulangkan kepada ahli-nya dan berjala sesuai kaidah-kaidah ilmu hadits. Maka ia tertolak jika datang dari yang bukan ahli-nya, dan ia juga tertolak apabila menyalahi kaidah-kaidah ilmu hadits yang telah disepakati walaupun datang dari ahli hadits, apalagi yang bukan ahlinya. Contoh : Hadits masyhur mengadzankan telinga bayi. Imam At-Tirmidzi beliau menshahihkannya, beliau ahlinya. Namun, karena pada sanadnya ada lemah hafalannya. Perawi yang lemah hafalannya maka status haditsnya dha'if atau lemah. Maka tertolak tashhih dari Imam At-Tirmidzi. Bantuannya ada dua hadits dari riwayat yang lain, tapi kedua hadits tersebut palsu, sehingga tidak bisa menaikkan derajat hadits tersebut menjadi hasan atau lainnya. Contoh lain, hadits : اقرأوا على موتاكم يس “Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan meninggal dunia di antara kalian” Hadits ini dha'if karena ada dua orang dari perwainyamajhul (tidak dikenal). Dalam kaidah ilmu hadits perawi yang majhul menjadikan sanadnya dha'if/lemah. Dan karena ada hadits shahih diantaranya : لقنوا موتا كم لا إله إلا الله “Tuntunlah seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat: ‘Laa ilaaha illa Allah’". (HR. Imam Muslim) Dan hadits, من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة “Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah “Laa ilaaha illa Allah” maka akan masuk surga” (HR. Abu Dawud) Pada muqaddimah kitab, penulis (Ustadz Abdul Hakim) menyebutkan, dengan mengawali kitabnya dengan : بسم الله الرحمن الرحيم Sebagaimana Rabbul'alamin memulai Kitab-Nya dengan basmalah dan Nabi yang mulia Shallallahu 'alayhi wa sallam telah menulis surat-surat kepada raja-raja dunia dengan basmalah, demikian juga banyak dari para Imam ahli hadits seperti Imam Malik, Ahmad, Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah dan yang selain mereka dari para Imam ahli hadits banyak sekali yang memulai kitab mereka dengan basmalah. Lalu dilanjutkan dengan sebuah sabda yang besar dari Nabi yang agung lagi sangat mulia Shallallahu 'alayhi wa sallam: إنما الأعمال بالنيات.... "Sesungguhnya segala amal itu tergantung dari niatnya...." Maksud penulis, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kitab ini hanya mencari wajah-Nya semata yang disifati Kebesaran dan Kemuliaan dalam rangka menghidupkan Sunnah Nabi-Nya yang mulia Shallallahu'alayhi wa sallam yang terkumpul padanya semua ilmu-ilmu Islam.... Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ . وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو ٱلْجَلَٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ "Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." (QS. Ar-Rahman: 26-27) Di ayat yang lain, وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ . إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nyalah mereka melihat." (QS. Al-Qiyamah : 22-23) Kenikmatan paling nikmat di Surga adalah dengan melihat Wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Semoga Allah 'Azza wa jalla mengampuni seluruh dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita dan memasukkan kita ke dalam Surga-Nya dan mendapatkan kenikmatan tertinggi melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala... Aamiin. Diketik oleh : rahmat silaturahim.
Selasa, 08 November 2022
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 comments:
Posting Komentar