RADIO KITA

Mengenai radio dem

AIR HAJI, SUMATERA BARAT, Indonesia
KAMI ADALAH RADIO DAKWAH

Selasa, 08 November 2022

SYARAH AQIDAH MANHAJ 4

SESI KE-4 PEMBAHASAN KITAB MANHAJ & AQIDAH [Bersama Ustadzuna Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah Ta'ala di Masjid Jami' Imam Abu Daud, Tenayan Raya - Pekanbaru] Manhaj secara bahasa adalah jalan yang jelas, jalan yang terang dan jalan yang mudah. Menurut istilah adalah Sunnah. Ini ditegaskan oleh Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'anhuma ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا "Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang." (QS. Al-Maidah : 48) Maksudnya perjalanan Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam di dalam mendakwahkan Islam dan mengamalkannya yang diikuti oleh sahabat Radhiyallahu 'anhum dengan puncak kesetiaan. Ini merupakan tafsir yang sangat jelas, terbukti do'a Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa kepada Abdullah bin 'Abbas Radhiyallahu 'anhuma, yaitu agar diajarkan Kitabullah dan paham akan agama. Sunnah ada 2 makna, yakni : 1. Semakna dengan hadits : setiap perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi. Persetujuan Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam atas perbuatan sahabat. Ini di isyaratkan dengan diam, tersenyum dan tertawa, yang 2. Sama dengan manhaj yaitu perjalanan dalam mendakwahkan dan mengamalkan Islam sampai Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam wafat (sepanjang hayat beliau). Sunnah yang dimaksud di sini bukan sunat yang kita pahami sebagaimana dalam hukum fikih. Contoh : Anas pernah hendak bersafar, beliau berbuka di rumahnya sebelum melakukan perjalanan. Lalu ditanya oleh tabi'in apakah ini Sunnah? Anas Radhiyallahu 'anhu menjawab : iya, ini Sunnah. Bab ke-5 : Quburiyyun (lihat halaman 62 pada buku Manhaj & Aqidah) Sebelumnya dari Nabi Adam 'Alayhissalam sampai Nabi Nuh 'Alayhissalam selama 10 abad (1000 tahun), tidak ada kesyirikan di atas bumi. Di zaman Nabi Nuh ada beberapa orang shaleh yang telah wafat. Untuk mengenang jasa-jasa mereka maka dibuatlah patung-patung mereka. Awalnya tidak disembah, namun dengan berlalunya waktu, akhirnya di bujuk rayu oleh iblis sehingga akhirnya di sembah, inilah awal mula kesyirikan yang terjadi dipermukaan bumi. (Lihat tafsir dalam surah Nuh) Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (1) قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (2) أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ (3) يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (4) Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan), "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih." Nuh berkata, "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu, (yaitu) sembahlah Allah olehmu, bertakwalah kepada-Nya, dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui. قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا (5) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا (6) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا (7) ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا (8) ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا (9) فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12) مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا (13) وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا (14) أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا (15) وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا (16) وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا (17) ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا (18) وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا (19) لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا (20) Nuh berkata, " Ya Rabb-ku, Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan Sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka. mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian Sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian Sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) secara terbuka dan dengan diam-diam, maka aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu,' sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita. Dan Allah menciptakan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (darinya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menempuh jalan-jalan yang luas di bumi itu.” قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا (21) وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا (22) وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (23) وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا (24) Nuh berkata, "Ya Rabb-ku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu daya yang amat besar." Dan mereka berkata, "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwa', yagus, ya'uq dan nasr." Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًا (25) وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا (26) إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا (27) رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا (28) Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan, lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah. Nuh berkata, "Ya Rabb-ku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di anta a orang-orang kafir tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Ya Rabb-ku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” Salah satu penyebab kesyirikan terbesar sampai zaman ini adalah mengagungkan kubur-kubur orang shaleh, meminta kepada penghuni kubur. Nabi Nuh 'Alayhissalam berdakwah selama 950 tahun siang dan malam. Yang beriman kepada dakwah beliau hanya beberapa orang saja. Pendidikan kaum Nuh 'Alayhissalam terhadap anak-anak mereka adalah pendidikan kufur. Yang pada akhirnya mereka semua binasa dengan banjir yang dahsyat dan tidak tersisa kecuali beberapa orang saja. Walhasil, yang selamat merupakan generasi kedua setelah generasi Nabi Adam 'Alayhissalam. Pada bab ini (Bab ke-5 : Quburiyyun) ada 6 buah hadits. Hadits Pertama (ke-14) : Dari Jundab -Jundub-, dia berkata : Aku pernah mendengar Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda lima hari sebelum beliau wafat : إنِّي أبْرَأُ إلى اللهِ أنْ يَكونَ لي مِنكُم خَلِيلٌ، فإنَّ اللهِ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا، كما اتَّخَذَ إبْرَاهِيمَ خَلِيلًا، ولو كُنْتُ مُتَّخِذًا مِن أُمَّتي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أبَا بَكْرٍ خَلِيلًا، ألَا وإنَّ مَن كانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أنْبِيَائِهِمْ وصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، ألَا فلا تَتَّخِذُوا القُبُورَ مَسَاجِدَ، إنِّي أنْهَاكُمْ عن ذلكَ. "Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah dari mengambil diantara kamu sebagai khalilku (kekasih). Karena sesungguhnya Allah telah mengambilku -menjadikanku- sebagai khalil-Nya, sebagaimana Allah telah mengambil Ibrahim sebagai khalil-Nya. Kalau seandainya aku boleh mengambil dari umatku sebagai khalilku, pastilah aku mengambil Abu Bakar sebagai khalilku. Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang sebelum kamu telah menjadikan kubu Nabi-Nabi mereka dan kubur orang-orang yang shalih diantara mereka sebagai masjid-masjid. Ingatlah, maka janganlah kamu menjadikan kubur-kubur itu sebagai Masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari mengerjakan yang demikian itu." (HR. Imam Muslim no.532) Hadits Kedua (ke-15) : Dari Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiyallahu 'anha, dia berkata : Sesungguhnya Ummu Habibah dan Ummu Salamah (keduanya juga Ummul Mukminin), keduanya menerangkan tentang gereja yang mereka lihat di negeri Habsyah (Ethiopia) yang di dalamnya terdapat patung-patung. Lalu keduanya menerangkan kepada Nabi Shalallahu 'alayhi wa sallam, maka beliau bersabda : إنَّ أُولَئِكَ إذَا كانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ، بَنَوْا علَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وصَوَّرُوا فيه تِلكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَومَ القِيَامَةِ. "Sesungguhnya mereka itu, apabila ada diantara mereka seorang yang shalih wafat, kemudian mereka bangun dikuburnya Masjid dan mereka buat di dalamnya patung-patung, maka mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat." (HR. Imam Bukhari no. 427, 434, 1341 dan 3873, Imam Muslim no. 258 dan Imam An-Nasa'i no. 704 dan selain mereka) Hadits Ketiga (ke-16) : Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda: لعنةُ اللهِ على اليهودِ والنصارى اتخذوا قبورَ أنبيائِهم مساجدَ "Laknat Allah atas Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kubur-kubur Nabi-nabi mereka sebagai Masjid-masjid. " (HR. Imam Bukhari no. 436, 1330, 1390, 3454, 4441, 4444 dan 5816, Imam Muslim no. 531 dan Imam An-Nasa'i no. 703 dan yang selain mereka dari jalan/hadits 'Aisyah dan Abdullah bin Abbas) Hadits Keempat (ke-17) : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda: قاتل اليهود اتخذوا فبور أنبيا ئهم مساجد. "Semoga Allah membinasakan Yahudi yang telah menjadikan kubur-kubur Nabi-nabi mereka sebagai Masjid-masjid." (HR. Imam Bukhari no. 437, Imam Muslim no. 530, Imam Abu Dawud no. 3227 dan Imam An-Nasa'i no. 2047 dan selain mereka) Dalam satu riwayat Imam An-Nasa'i dan Imam Muslim : ...لعن الله اليهود والنصارى (Allah melaknat Yahudi dan Nashrani....) Diantara fikih hadits, maksud menjadikan kubur sebagai masjid ialah : 1. Membangun Masjid di kubur atau disekitar kubur. 2. Mengubur mayit di masjid atau di sekitar yakni halaman Masjid. 3. Menjadikan kubur sebagai tempat untuk ibadah seperti berdo'a -kecuali mendo'akan mayit- dan lain-lain yang di datangi pada waktu-waktu tertentu Hadits Kelima (ke-18) : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : لا تجعلوا بيوتَكُم قبورًا، ولا تجعلوا قَبري عيدًا، وصلُّوا عليَّ فإنَّ صلاتَكُم تبلغُني حَيثُ كنتُمْ "Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu seperti kuburan, dan janganlah kamu jadikan kuburku sebagai 'ied (tempat perayaan). Akan tetapi bershalawat kepadaku, karena sesungguhnya shalawat kamu itu akan sampai kepadaku dimana saja kamu berada." (Hadits Hasan, riwayat Imam Abu Dawud no. 2042 dan Imam Ahmad 2/367) Hadits Keenam (ke-19) : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam (beliau bersabda) : اللَّهمَّ لا تَـجْعَلْ قَبْري وَثَنًا، لعَنَ اللهُ قَوْمًا اتَّـخَذوا قُبورَ أَنْبِيائِهم مَساجِدَ. "Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah. Karena Allah melaknat kaum yang menjadikan kubur-kubur Nabi-nabi mereka sebagai Masjid-masjid." (Hadits Hasan yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dan Imam Al-Humaidi juga dimusnadnya) Berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lainnya bahwasanya masjid dan kuburan terpisah.Hadits ini juga menunjukkan tidak ada membaca Al-Qur'an di kuburan, juga berdasarkan hadits-hadits yang lainnya. Adapun kondisi kubur Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam: 1. Kuburan Nabi di rumah beliau, karena ada hadits yang menjelaskan bahwa setiap Nabi dikubur dimana tempat wafatnya. Beliau Shallallahu 'alayhi wa wafat di rumah 'Aisyah Radhiyallahu 'anha. 2. Perluasan terjadi ketika para sahabat semua telah wafat, khalifah ketika itu melakukan perluasan masjid sehingga rumah 'Aisyah masuk ke dalam perluasan. Ada beberapa tabi'in yang mengingkari, namun tetap dilakukan perluasannya. Bolehkah kita shalat di masjid Nabawi? Kan ada kubur Nabi? Jawabannya ini kekhususan, dan masjid Nabawi memiliki keutamaan, sebagaimana Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Lanjut Bab ke-6 : Orang Yang Sampai Mati Tidak Beriman Kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم Padahal Da'wah Yang Shahih Telah Sampai Kepadanya Maka Dia Termasuk Penghuni Neraka Dan Kekal Di Dalamnya Selama-lamanya. (Lihat halaman 71 pada buku Manhaj dan Aqidah) Hadits Kedua puluh: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam sesungguhnya beliau bersabda : و الذي نفْسُ محمدٍ بيدِهِ ، لا يسمعُ بي أحدٌ من هذه الأمةِ ، لا يهودِيٌّ ، و لا نصرانِيٌّ ، ثُمَّ يموتُ ولم يؤمِنْ بالذي أُرْسِلْتُ به ، إلَّا كان من أصحابِ النارِ "Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, tidak seorang pun juga dari umat ini yang mendengar kedatangan aku, baik Yahudi maupun Nashrani, kemudian sampai mati dia tidak beriman dengan kerasulanku, melainkan dia termasuk penghuni neraka." (Hadist Shahih. Dikeluarkan oleh Imam Muslim no. 153) Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam, karena sebab : 1. Senantiasa bersama Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam. 2. Berkat do'a kepada Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam kepada beliau. 3. Mukjizat Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam, ketika Abu Hurairah mengeluhkan tentang beliau sering lupa. Ketika Nabi bersabda, Abu Hurairah seolah-olah menampung sabda Nabi tersebut dengan bajunya, setelah itu beliau peluk ke dadanya. Berkat mukjizat ini, Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu tidak menjadi lupa (kuat hafalan beliau) 4. Ahli hadits pertama dalam Islam, atas persaksian Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam. Meskipun termasuk terakhir masuk Islam sekitar tahun ke-7 Hijriyah, sejak itu beliau selalu bersama Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam. Meninggalkan kemewahan di Yaman untuk bisa hidup di Madinah. Gigihnya dan meminta kepada Nabi agar ibu beliau memeluk agama Islam. Hadits ini adalah hadits perintah untuk mendakwahkan agama ini, dengan syarat harus bersumber dari Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam. Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam mendakwahkan kepada raja-raja dunia ketika, sehingga banyak yang datang ke Madinah yang banyak untuk mempelajari Islam. Musailamah Al-Kadzab juga pernah menjumpai Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam, namun petunjuk tidak masuk ke relung hatinya, karena ia hanya menginginkan kekuasan setalah Nabi wafat. Lanjut ke Bab ke-7 : Semua Agama Para Nabi dan Rasul Adalah Satu/Sama Yaitu Islam. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: إِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَأَنَا۠ رَبُّكُمْ فَٱعْبُدُونِ "Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Rabb-mu, maka sembahlah Aku." (QS. Al-Anbiya' : 92) Ibnu Abbas, Mujahid, Sa'id bin Jubair, Qatadah dan lain-lain dari para Ulama Shahabat dan Tabi'in telah menafsirkan firman Allah Ta'ala ini (Tafsir Al-Hafizh Ibnu Katsir. Dan Atsar dari Ibnu Abbas diantaranya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir di kitab tafsirnya dalam menafsirkan ayat diatas) bahwa semua agama para Nabi dan Rasul dari Nabi Adam 'Alayhissalam sampai Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam adalah satu, yaitu dinul Islam, sebagaiman Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam bersabda: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : "Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda: أنا أولى الناسِ بعيسى ابنِ مريمَ في الدنيا والآخرةِ، والأنبياءُ إخوةٌ لعلَّات، أمهاتُهم شتَّى ودينُهم واحد "Aku adalah orang yang paling dekat kepada Isa bin Maryam di dunia dan di akhirat, dan para Nabi itu saudara sebapak lain ibu, sedangkan agama mereka satu." (HR. Imam Bukhari no. 3442 dan 3443, juga Imam Muslim no. 2365, lafaz ini milik Imam Bukhari) Nabi Isa 'Alayhissalam yang paling dekat Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam, baik di dunia dan di akhirat, disebabkan : 1. Jarak paling dekat dengan Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam, karena antara Nabi Isa dengan Nabi Muhammad 2. Yang memberi kabar terakhir, bahwa akan ada Nabi terakhir yang termaktub di Taurat dan Injil. Di dalam surah Shaf : وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (6) Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, "Ini adalah sihir yang nyata.” 3. Nasabnya sama, sama-sama keturunan Nabi Ibrahim 'Alayhissalam. 4. Agamanya sama, dakwahnya sama, mengajak untuk mengibadahi Allah Subhanahu wa Ta'ala. diketik oleh : Abu Abdillah Rahmat Silaturahim

0 comments:

Posting Komentar