RADIO KITA

Mengenai radio dem

AIR HAJI, SUMATERA BARAT, Indonesia
KAMI ADALAH RADIO DAKWAH

Selasa, 08 November 2022

SYARAH AQIDAH MANHAJ 2

SESI KE-2 PEMBAHASAN KITAB MANHAJ & AQIDAH [Bersama Ustadzuna Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah Ta'ala di masjid Raudhatul Jannah - Pekanbaru] Islam merupakan agama yang lengkap dan sempurna tidak membutuhkan penambahan dan pengurangan dari siapa pun juga. Pernah terjadi dialog antara sahabat yang mulia, yakni Salman Alfarisi Radhiyallahu 'anhu dengan orang musyrikin. قَالُوا لِسَلْمَانَ : قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَىْءٍ حَتَّى الْخَرَاءَةَ. فَقَالَ : أَجَلْ ، قَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ ، وَنَهَانَا أَنْ يَسْتَنْجِىَ أَحَدُنَا بِأَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ ، وَنَهَانَا أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ. رَوَاهُ مُسْلِم Mereka bertanya kepada Salman, “Sungguh nabi kalian telah mengajarkan kalian segala sesuatunya sampai-sampai cara buang hajat?” Salman menjawab, “Benar! Beliau telah melarang kami untuk menghadap kiblat baik ketika buang air besar maupun buang air kecil dan melarang kami untuk beristinja’ (membersihkan kotoran) dengan batu kurang dari tiga biji, dan melarang kami beristinja’ dengan kotoran hewan atau tulang.” (HR. Imam Muslim) Jalan kebaikan dalam Islam sangat banyak, jangankan masalah yang pokok lagi penting, yakni masalah akidah dan keimanan, masalah yang remeh lagi sepele, seperti buang hajat diatur dalam agama Islam. Untuk itu kita diperintahkan oleh Rabbul'alamin menganut Islam secara kaffah, firman-Nya : يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah: 208) Dan asas yang paling utama adalah manhaj dan aqidah karena ini pintu utama yang mau memasukinya secara menyeluruh, jika tidak maka akan terjadi kerancuan di dalam beragama. Di ayat yang lain, يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ . إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِٱلسُّوٓءِ وَٱلْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 168-169) Syaithan mengajak kepada perbuatan jahat, lalu naik ke perbuatan keji dan naik lagi kepada kerusakan terparah yaitu mengatakan tentang Allah tanpa ilmu. Walhasil, muncullah kekufuran, kesyirikan, firqoh-firqoh sesat dan yang lainnya, karena berbicara tanpa ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di dalam hadits Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam disebutkan, إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّـى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا. "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang jahil sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain." (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim) Dari hadits ini kita mengetahui betapa tinggi dan mulianya ilmu. Di hadits lain, مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ. ‘Di antara tanda-tanda Kiamat adalah hilangnya ilmu dan tersebarnya kejahilan.’” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim) Yang membedakan dakwah ini yang hakiki dengan dakwah-dakwah yang lain adalah di dalam manhaj dan aqidah. Contoh : Terjadi dialog antara Imam Asy-Syafi'i rahimahullah dengan Bisyr. Kemudian Imam asy Syafi’i berkata kepada Bisyr: “Jelaskan kepadaku tentang apa yang kau dakwahkan (:yaitu al Qur’an adalah makhluk)!. Apakah ada al Qur’an yang berbicara tentangnya, atau kewajiban yang diwajibkan syariat, atau sunnah yang menjadi dalil, atau engkau dapati dari salaf19 membahasnya dan mempertanyakannya?” Kemudian Bisyr berkata: “Tidak, kecuali hanya kami tidak bisa menyelisihi (pendapat al Qur’an adalah makhluk)” Kemudian Imam asy Syafi’i berkata: “Apakah engkau mengikrarkan dirimu berada dalam kesalahan?, dimana posisi anda dari ilmu fiqih dan hadits?, apakah anda lebih memihak manusia dan meninggalkan ilmu ini?” Bisyr berkata: “Kami memiliki kesenangan didalam (ilmu kalam)” Ketika Bisyr telah keluar, maka Imam asy Syafi’i berkata: “Ia tidak akan beruntung” (Lihat Siyar A’lamin Nubala’, imam Adz-Dzahabi) Dari dialog diatas, Imam Asy-Syafi'i rahimahullah menanyakan : Apakah ada pada Kitabullah (Al-Qur'an)? Apakah ada pada Sunnah? Apakah ada dari kaum salaf (mulai dengan gurunya sendiri Imam Malik terus sampai ke atas sampai ke sahabat Nabi)? Tidak bisa berbohong, Bisyr berlandaskan dengan dengan akalnya, itu makanya ahlul bid'ah dikatakan ahlul hawa. Lihat hadits di halaman 477, pada buku Manhaj dan Aqidah, dari Shafwan, dia berkata : telah menceritakan kepadaku Azhar bin Abdullah Al-Hawzani atau Al-Harazi, dari Abu Amir Abdullah bin Luhai, dia berkata :Kami pernah menunaikan ibadah haji bersama Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Maka ketika kami datang ke Makkah beliau berdiri khutbah setelah shalat Zhuhur, beliau pernah mengatakan : " Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda : إنَّ أهلَ الكتابَينِ افترقوا في دينِهِم علَى ثنتَينِ وسبعينَ مِلَّةً ، وإنَّ هذِهِ الأُمَّةَ ستفترقُ علَى ثلاثٍ وسبعينَ مِلَّةً - يعني الأَهْواءَ - كلُّها في النَّارِ إلَّا واحدةٌ ، وَهيَ الجماعةُ ، وإنَّهُ سيخرجُ في أمَّتي أقوامٌ تجاري بِهِم تلكَ الأهواءُ ، كما يتجارَى الكَلبُ بصاحبِهِ ، لا يبقَى منهُ عِرقٌ ولا مِفصلٌ إلَّا دخلَهُ . واللَّهِ - يا معشرَ العربِ - لئن لم تقوموا بما جاءَ بِهِ نبيُّكم صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ لغَيرُكم مِن النَّاسِ أحرَى ألَّا يقومَ بِهِ "Sesungguhnya dua ahli kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua sekte dan sesungguhnya umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga. Semuanya berada di dalam neraka kecuali satu, yaitu al-jama’ah. Dan bahwa akan muncul suatu kaum di umatku yang akan dijangkiti hawa nafsu, sebagaimana penyakit anjing gila (rabies) menjalari penderitanya.” ‘Amr berkata, “Rabies menjalari penderitanya. Tidak tersisa satu pembuluh darah pun dan tidak pula satu sendipun kecuali dimasukinya.” Berkata Mu'awiyah: "Demi Allah hai bangsa Arab, sungguh jika kamu tidak mengamalkan yang dibawa oleh Nabi-mu Shallallahu 'alayhi wa sallam, niscaya manusia selain kamu (bangsa-bangsa selain dari Arab) lebih tidak mengamalkan lagi. (HR. Imam Abu Dawud dan selainnya) Hadits di atas adalah mukadimah untuk melapangkan jalan kita untuk membahas kitab "Manhaj dan Aqidah" ini. Mari kita mulai untuk mempelajari dari bab (1). "Dosa Orang Yang Berdusta Atas Nama Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam. Pada bab ini dibawakan 10 hadits ditambah satu hadits di bab kedua (hadits ke-11). Berbohong atau berdusta atas Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam tidak sama dengan berdusta atas nama orang lain. Berdusta atas nama Nabi akan mempengaruhi ibadah seseorang kepada Rabb-nya. Contoh : حب الوطن من الإيمان “Cinta tanah air adalah bagian dari iman”. Hadits ini palsu, tidak ada asal usulnya. Namun hadits ini xepat beredar, sehingga diyakini itu dari Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam. Padahal cinta tanah air, kota, negara merupakan tabi'at setiap diri, bahkan orang kafirpun mencintai negerinya. Hadits Pertama : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda : مَن كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ "Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka." (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim, hadits ini mutawatir) Hadits Kedua : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : "Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam telah bersabda : ومن تقوَّلَ عليَّ ما لم أقُلْ، فليتبوَّأ مقعدَهُ منَ النَّارِ "Barangsiapa yang membuat perkataan atas namaku yang sama sekali tidak pernah aku katakan, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka." (HR. Imam Ahmad dan Imam Ibnu Majah) Hadits Ketiga : Dari Salamah Al-Akwa', dia berkata : "Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda: مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ "Barangsiapa yang mengatakan atas namaku apa saja yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka." (HR. Imam Bukhari) Dari hadits pertama, kedua dan ketiga menunjukkan hadits ini diulang-ulang dan hadits ini merupakan hadits yang paling mutawatir diriwayatkan oleh seluruh ahli hadits. Hadits Keempat : Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : "Sesungguhnya yang menghalangiku menceritakan hadits yang banyak kepada kamu ialah karena Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam telah bersabda : من تعمد علي كذبا فليتبوأ مقعده من النار "Barangsiapa yang dengan sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka." (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim) PERHATIKAN !!! Betapa hati-hatinya Anas bin Malik dalam meriwayatkan hadits Nabi karena ancaman ini, padahal beliau lebih sepuluh tahun berkhidmat kepada Nabi, salah satu sahabat yg paling banyak meriwayatkan hadits. Hadits Kelima : Dari Amir bin Abdullah bin Zubair, dari bapaknya (Abdullah bin Zubair) dia berkata : " Aku pernah mendengar kepada Zubair bin Awwan : Mengapa aku tidak pernah mendengar engkau menceritakan (hadits yang banyak) dari Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam sebagaimana dari Ibnu Mas'ud serta Fulan dan Fulan?" Beliau menjawab : "Adapun aku sejak masuk Islam, aku tidak pernah berpisah dari Rasulullah Shallallahu'alayhi wa sallam. Akan tetapi aku pernah mendengar dari beliau satu kalimat yaitu beliau bersabda : من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار "Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka." (Muttafaqun 'alayhi) Zubair bin Awwan Radhiyallahu 'anhu diantara 10 orang sahabat dijamin masuk surga. Masih perlu hati-hati, hanya membawakan hadits yang Tsabit dari Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam. Bagaimana dengan kita?? Yang dengan serampangan membawakan hadits yg tidak mengetahui sah atau tidak sahnya. Hadits Keenam : Dari Abdullah bin 'Amr, dia berkata : "Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda : بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ. "Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra'il dan itu tidak apa (dosa). Dan barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Imam Bukhari, Imam At-Tirmidzi, Imam Ahmad dan lainnya) PERHATIKAN!!! Nabi mengulang-ulang sabda beliau di banyak majelis beliau agar menjaga kemurnian Islam salah satunya ancaman berbohong atas Nabi yang mulia. Karena jika disandarkan kepada beliau akan diikuti oleh jutaan umat sepanjang zaman . Hadits Ketujuh : Dari Ali bin Abi Thalib, dia berkata : "Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda : لا تكذِبُوا عليَّ ، فإنَّهُ مَنْ يكذبُ عليَّ فلْيلِجِ النَّارَ "Janganlah kamu berbohong atas namaku, sesungguhnya barangsiapa yang berbohong atas namaku hendaklah ia masuk ke dalam neraka." (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim) Hadist Kedelapan : Dari Mughirah bin Syu'bah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda : إنَّ كَذِبًا عَلَيَّ ليسَ كَكَذِبٍ علَى أَحَدٍ، مَن كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ "Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama berdusta kepada orang lain. Maka barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan senagaja, hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka. " (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim) Banyak hadits tidak berasal dari Nabi tapi diyakini dari beliau oleh umat, karena tidak pahamnya mereka tentang keabsahan suatu hadits. Hadits Kesembilan : Dari Watsilah bin Al-Asqa Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam pernah bersabda : إنَّ مِن أعْظَمِ الفِرَى أنْ يَدَّعِيَ الرَّجُلُ إلى غيرِ أبِيهِ، أوْ يُرِيَ عَيْنَهُ ما لَمْ تَرَ، أوْ يقولُ علَى رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ما لَمْ يَقُلْ "Sesungguhnya sebesar-besarnya dusta ialah seseorang seorang yang mengaku berbapak kepada yang bukan bapaknya. Atau dia mengatakan telah diperlihatkan kepada matanya apa yang matanya bukan itu tidak pernah melihatnya (dia mengaku bermimpi dan melihat sesuatu dalam mimpinya itu padahal sebenarnya bohong). Di dalam riwayat yang lain : Atau dia mengatakan telah diperlihatkan kepada kedua matanya dalam tidur mimpinya apa yang tidak dilihat oleh kedua matanya. Atau dia mengatakan atas nama Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa salam apa-apa yang beliau tidak pernah sabdakan. Berbohong terbesar dari setelah berbohong atas nama Allah Subhanahu wa Ta'ala, adalah berbohong atas nama Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallam." (HR. Imam Bukhari dan Imam Ahmad) Hadits ke 10 : Dari Abu Bakar Salim, dari bapaknya, dari kakeknya, dia berkata: "Bahwasany Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa telah bersabda : إن الذي يكذب علي يبنى له بيت في النار "Sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam neraka." (HR. Imam Ahmad) Sepuluh hadits ini merupakan ancaman bagi yang berdusta atas nama Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam. Hadits ke sebelas ancaman membuat hadits palsu. Hadits Kesebelas : Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam bersabda: مَنْ حَدَّثَ عَنِّيْ بِحَدِيْثٍ يَرَيْ أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ “Barang siapa menceritakan dariku suatu hadis yang dia ketahui kedustaannya, maka dia termasuk di antara dua pendusta.” (HR. Imam Muslim ) Sebelumnya si bawakan firman Allah pada Bab (2). Hadits Masyhur Tentang Ancaman Membawakan Hadits-Hadits Maudhu' وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب "Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa , dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. Al Maidah : 2) Jika tidak merujuk kepada ahli hadits maka mereka akan saling tolong menolong dalam berbuat pelanggaran .... Bagitu juga pelaku bid'ah, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa membuat suatu perkara baru (bid'ah) dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim) Ada yang beralasan tidak membuat bid'ah maka diancam juga dengan riwayat berikut : من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد "Dan barangsiapa yang melakukan suatu amal perbuatan yang tidak sesuai dengan tuntunanku maka dia tertolak." (HR. Imam Muslim) Berita yang beredar ada yang benar dan ada yang bohong terlebih di zaman media ini, jangan kita sampai gegabah di dalam men-share postingan, sebelum jelas bagi kita keabsahannya. Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda: كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ “Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar." (HR. Imam Muslim) Agar tidak asal-asalan atau gampang meriwayatkan hadits dari Rasulullah. Kalau selain hadits Bukhari dan Muslim maka ditanyakan keshahannya (Shahih atau dha'if) In syaa Allah, bersambung ke sesi-3.... diketik oleh : rahmat silaturahim

0 comments:

Posting Komentar