🌍 Ada kawan mengundang saya ikut selamatan kematian ('tahlilan') keluarganya. Jawaban saya: Assalaamu'alaikum. ☺️ Sebagai warga Muhammadiyah, dan simpatisan Al Irsyad, Persis, DDII, Hidayatullah, Wahdah Islamiyah, Puldapii, Ahlus Sunnah as Salafiyyiin, dst., yang memang tidak Tahlilan, dll.; aku tidak akan hadiri. Namun, aku doakan, tentu. Juga untuk yang lain. Dan tidak harus di hitungan hari 1, 3, 7, 40 dst. Dapat di hari apapun. Terus. Lebih baik lagi di dalam sholat, saat sujud, dan sebelum salaam. Dan uang yang ada, lebih baik lagi, jika didermakan, sebagai sumbangan, amal sholih atas nama beliau. Ini dalil-dalilnya ada. Shohih. Baraakollohu fikum. Aamiiin. 🌸🌿 ➖➖➖➖➖➖➖ 🌸 Seorang mayyit dalam (alam) kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang meminta pertolongan. Dia menanti-nantikan doa ayah, ibu, anak dan kawan yang terpercaya. Manakala doa itu sampai kepadanya baginya lebih disukai daripada dunia berikut segala isinya. Dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung-gunung. Adapun hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang mati ialah memohon istighfar (ampunan) kepada Allaah untuk mereka, dan bersedekah atas nama mereka. (H. R. Ad-Dailami) ➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖ TAMBAHAN: Muhammadiyah menjawabTahlilan dalam Pandangan Muhammadiyah Photo of admin admin Send an email January 14, 20203 2,500 4 minutes read Pertanyaan:Apakah Muhammadiyah membolehkan tahlilan, seperti mengucapkan kata “La Ilaha Illallah” sebanyak 33 kali? Saya rasa lebih menenangkan dan menyejukkan hati serta menciptakan situasi yang Islami. Pertanyaan Dari: Ruslan Hamidi, Kembangan, Sumber Rahayu, Moyudan, Sleman Jawaban: Pertanyaan tersebut sebenarnya sudah sering ditanyakan dalam pengajian-pengajian, dan pernah juga dijawab lewat Suara Muhammadiyah, secara singkat. Namun demikian kami tidak keberatan menjelaskan kembali lewat Suara Muhammadiyah agar pembaca lebih mudah memahaminya. Jika yang dimaksudkan tahlil adalah membaca “La Ilaha Illallah” (tiada Tuhan selain Allah), Muhammadiyah tidak melarang, bahkan menganjurkan agar memperbanyak membacanya, berapa kali saja, untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an sebagai berikut:فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ . [البقرة (2): 152] Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” [QS. al-Baqarah (2): 152]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. [الأحزاب (33): 41] Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” [QS. al-Ahzab (33): 41]… قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ . [الأنعام (6): 19] Artinya: “… katakanlah: Sesungguhnya dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).” [QS. al-An’am (6): 19] قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ . اللهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ . [الإخلاص (112): 1-4] Artinya: “Katakanlah: Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” [QS. al-Ikhlas (112): 1-4] فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ . [محمد (47): 19] Artinya: “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang-prang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” [QS. Muhammad (47): 19] Perintah berzikir dengan menyebut Lafal Jalalah (La Ilaha illa Allah) dalam hadits-hadits pun banyak diungkapkan, antara lain ialah: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ . [رواه البخارى، كتاب الصلاة، باب المساجد فى البيوت، عَنِ عِتْبَانُ بن مَالِكُ] Artinya: “Rasullah saw besabda: Maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka terhadap orang yang mengucapkan ‘La Ilaha Illa Allah’, yang dengan lafal tersebut ia mencari keridhaan Allah.” [HR. al-Bukhari, Kitab as-Shalah, Bab al-Masajid fi al-Buyut, dari ‘Itban ibn Malik) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشَرَ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْحَرِّ . [رواه مسلم، كتاب الذكر، باب فضل التهليل، نمرة: 28/2691، عن أبى هريرة] Artinya: “Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa mengucapkan ‘La ilaha illa Allah wahdahu la syarika lahu lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘ala kulli syai`in qadir’, dalam satu hari sebanyak seratus kali, maka (lafal jalalah tersebut) baginya sama dengan memerdekakan sepuluh hamba sahaya, dan dicatat baginya seratus kebaikan, dan dihapus daripadanya seratus kejahatan, dan lafal jalalah tersebut baginya menjadi perisai dari syaitan selama satu hari hingga waktu petang; dan tidak ada seorang pun yang datang (dengan membawa) yang lebih afdal, daripada apa yang ia bawa (ucapkan), kecuali orang yang mengerjakan lebih banyak dari itu. Dan barangsiapa mengucapkan ‘subhana-llah wa bi hamdih’ (Allah Maha Suci dan Maha Terpuji) dalam satu hari sebanyak seratus kali, maka dihapus kesalahan-kesalahannya, sekalipun seperti buih air panas yang mendidih.” [HR. Muslim, Kitab az-Zikr, Bab Fadlut-Tahlil, No. 28/2691, dari Abu Hurairah] عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ . [رواه مسلم، كتاب الذكر، باب فضل التهليل، نمرة: 32/2695، عن أبى هريرة] Artinya: “Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Sungguh, saya mengucapkan: ‘Subhana-llah wa al-hamdu lillah wa la Ilaha illa Allah wa Allahu Akbar’ (Maha Suci Allah dan segala puji hanya bagi Allah, dan tiada Tuhan yang pantas disembah kecuali Allah, dan Allah adalah Maha Besar) adalah lebih saya cintai daripada terbit matahari.” [HR. Muslim, Kitab az-Zikr, Bab Fadlut-Tahlil, No. 32/2695, dari Abu Hurairah] Ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits tersebut memberikan pengertian bahwa memperbanyak membaca tahlil adalah termasuk amal ibadah yang sangat baik, sehingga mereka yang memperbanyak tahlil dijamin masuk surga dan haram masuk neraka. Tentu saja tidaklah cukup hanya mengucapkannya, atau melafalkannya saja, melainkan harus menghadirkan hati ketika membacanya, dan merealisasikannya dalam kehidupan keseharian. Yaitu dengan memperbanyak amal shalih dan meninggalkan segala macam syirik, baik syirik besar maupun syirik kecil, yang dalam istilah Muhammadiyah; meninggalkan TBC: takhayyul, bid’ah dan khurafat. Takhayyul ialah mempercayai adanya khayalan datangnya bala atau musibah yang dibawa oleh makhluk Allah, seperti burung, burung hantu, kucing, ular dan sebagainya. Bid’ah ialah melakukan ibadah yang tidak pernah diajarkan dan tidak pernah diamalkan oleh Rasulullah SAW, atau oleh para shahabatnya. Khurafat ialah mempercayai kisah-kisah yang batil, seperti kisah Nyai Roro Kidul, yang katanya dapat membuat manfaat dan madharat, sehingga harus diberi sesaji, padahal laut adalah mahkluk Allah yang tidak dapat membuat manfaat dan madharat.Jika masih berbuat syirik, dan tidak beramal shalih, sekalipun membaca tahlil ribuan kali, tidak ada manfaatnya. Maka yang sangat penting sebenarnya ialah bahwa tahlil itu harus benar-benar diyakini dan diamalkan dengan berbuat amal shalih sebanyak-banyaknya. ============================= Maka yang dilarang menurut Muhammadiyah adalah upacaranya yang dikaitkan dengan tujuh hari kematian, atau empat puluh hari atau seratus hari dan sebagainya, sebagaimana dilakukan oleh pemeluk agama Hindu. Apalagi harus mengeluarkan biaya besar, yang kadang-kadang harus pinjam kepada tetangga atau saudaranya, sehingga terkesan tabzir (berbuat mubazir). =========================== Pada masa Rasulullah saw pun perbuatan semacam itu dilarang. Pernah beberapa orang Muslim yang berasal dari Yahudi, yaitu Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya, minta izin kepada Nabi saw untuk memperingati dan beribadah pada hari Sabtu, sebagaimana dilakukan mereka ketika masih beragama Yahudi, tetapi Nabi saw tidak memberikan izin, dan kemudian turunlah ayat: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ . [البقرة (2): 208]Artinya: “Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” [QS. al-Baqarah (2): 208]Menurut kami, yang dimaksud dengan situasi Islami adalah situasi yang sesuai dengan syari’at Islam, dan bersih dari segala macam larangan Allah, termasuk syirik, takhayyul, bid’ah, khurafat, dan lain-lainnya. Sumber: Majalah Suara Muhammadiyah, No. 11, 2003 https://www.suaramuhammadiyah.id/2016/02/02/membaca-al-quran-untuk-orang-yang-meninggal/ PUSTAKA PENDUKUNG DAN ANALISIS: https://almanhaj.or.id/2449-hukum-membacakan-al-quran-kepada-orang-mati-di-dalam-rumahnya.html https://rumaysho.com/11836-pandangan-madzhab-syafii-dalam-menghadiahkan-bacaan-al-quran.html ---------------------------------- DALIL DARI HINDU-JAWA Dalam agama Hindu ada semacam 'syahadat' keyakinan yang dikenal dengan Panca Sradha (Lima Keyakinan). Lima keyakinan itu meliputi percaya kepada Sang Hyang Widhi, Roh leluhur, Karma Pala, Samskara, dan Moksa. Dalam keyakinan Hindu roh leluhur (orang mati) harus dihormati karena bisa menjadi dewa terdekat dari manusia [Kitab Weda Smerti Hal. 99 No. 192]. Selain itu dikenal juga dalam Hindu adanya Samskara (menitis/reinkarnasi). Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 yang berbunyi: “Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu. Dalam buku media Hindu yang berjudul “Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal” karya Ida Bedande Adi Suripto, ia mengatakan: “Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu.” Di dalam kitab Samawedha Samhita (kitab ajaran umat Hindu) buku satu, bagian satu, hal.20 yang berbunyi: "Purwacika prataka-prataka pramoredya rsi barawajah medantitisudi purmurti tayurwantara mawaeda dewata agni candra gayatri ayatna agna ayahi withaigrano hamyaditahi liltastasi barnesi agne". Yang artinya: "Lakukanlah pengorbanan pada orangtuamu dan lakukanlah kirim doa pada orangtuamu di hari pertama (1), ketiga (3), ketujuh (7), empat puluh (40), seratus (100), mendak pisan, mendak pindo". Di dalam prosesi menuju alam nirwana menghadap ida sang hyang widhi wasa mencapai alam moksa, diperintahkan untuk selamatan atau kirim do’a pada 1 harinya, 2 harinya, 7 harinya, 40 harinya, 100 harinya, mendak pisan, mendak pindho, nyewu (1000 harinya). Telah jelas bagi kita pada awalnya HITUNGAN HARI macam ajaran ini berasal dari agama Hindu, selanjutnya umat islam di pulau Jawa, mulai memasukkan ajaran-ajaran islam dicampur kedalam ritual ini. Menjadi Sinkretisme (pencampur-adukan hal agama), Bid'ah! Disusunlah rangkaian wirid-wirid dan doa-doa serta pembacaan Surat Yaa Siin kepada si mayit dan dipadukan dengan ritual-ritual selamatan pada hari ke 7, 40, 100, dan 1000 yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Yang bahkan antara satu buku Yaa Siinan dengan lainnya, sampai ada bermacam-macam versi! Yang dapat pula seenak kehendak, seenak hati si pelakunya. Belum lagi makan-makan dan 'amplopan' mengikutinya. Dan lain-lain. Di Nusantara, ini TIDAK DILAKUKAN WARGA MUHAMMADIYAH (1912) Al Irsyaad (1914), Persis (1923), sebagian besar warga DDII (1967), Hidayatullah (1974), Wahdah Islamiyah (1988), HASMI (2005), Puldapii (2017), dll. DAN JELAS SEKALI tidak dilakukan rosuululloh Muhammad - shollollohu 'alaihi wa sallam - dan semua Ahlul Baitnya, semua Sahabat Nabi, rodhiyollohu 'anhum. Juga tidak dilakukan para Tabi'iin, para Tabi'ut Tabi'iin. Tidak dilakukan Imaam Yang Empat (Imaam Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, Ahmad bin Hanbal). Tidak dilakukan semua murid Imaam Yang Empat. Tidak ditemui di masa kerajaan Islaam Daulah Islaamiyyaah Umayyah, Abbasiyyaah, Mamluk, Sholahudin Al Ayyubi, Turki Utsmaniyyaah, dst. Baru ditemukan di Jawa. Dan tidak pula dilakukan mayoritas umat Islaam dunia, misalnya di negara Arab Saudi, Oman, Yaman, Qatar, Kuwait, UEA, Mesir, Pakistan, Tajikistan, Turkistan, Turkmenistan, Uzbekistan, Kazakhstan, Bosnia-Herzegovina, Kroasia, Inggris, Amerika, Jerman, dll. ➖➖➖➖➖➖➖ TUGAS WALI SONGO MENGISLAAMKAN JAWA DAN MEMBERANTAS TAKHAYYUL - BID’AH - KHUROFAT SERTA BERBAGAI KEMAKSIATAN BELUM SELESAI Oleh: JAPRI (Jaringan Penjaga Risalah Islaam) Bismillaah. Islaam, adalah agama yang dinamai oleh Beliau - Allaah, Tuhan Yang Maha Esa - sendiri. Berbeda dengan penamaan agama-agama lain yang kita kenal kini, yang dinamai oleh pengkiutnya sendiri (dan mereka ubahi isi ajarannya). Lihat, sebagai salah satu dalil yang mudah dari banyak dalil, di Al Qur'aan surah Al Maaidah ayat 3. Dan ini, adalah sebagai agama sejak awal jaman (dalam Tawhiid, Ketuhanan Yang Maha Esa), dan menjadi standar final yang berlaku sampai Akhir Jaman (Kiamat) bahkan sampai Akhirat. Bukan agama Arab, karena ribuan nabi dan rosul itu berasal dari semua etnis, kaum, golongan. Dalam satu urusan: tentang Ketuhanan Yang Maha Esa. Mengatur lengkap semua aspek, sisi, detail kehidupan. "Sejak manusia bangun tidur, hingga tidur kembali, dan bahkan saat dia tidur", demikian istilah yang populer di kalangan para ulama. Dan ada sebanyak 124.000 nabi dan rosul, sejak awal jaman, diutusNya. Di BumiNya, yang konon - menurut Sains - telah berusia sekitar hampir 5 milyar tahun ini. Tentu saja, Allaah, Al Ilaah, Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tak akan membiarkan manusia dan jin hidup di Bumi, di DuniaNya, sampai tanpa petunjukNya. Dan beruntunglah, salaamah - lah (selamatlah) orang yang mau menurutinya. Apalagi, karena memang telah dipertunjukkan di berbagai keterangan Al Qur'aan, Hadits, Tarikh (Sejarah), dsb., bahwa memang selalu ada kaum manusia dan jin, yang mengubahinya, menyesatkan! Maka telah diutuslah, Rosuululloh (Utusan Allaah, atau Utusan Tuhan Yang Maha Esa) yang terakhir. Sekaligus sebagai tanda bahwa ini memang telah masa Akhir, menuju puncak Akhir Jaman. Beliau bernama Muhammad (atau Ahmad) - shollollohu ‘alaihi wa sallam - menerima risalah, ajaran, hukum, kabar gembira, peringatan, dsb. melalui firmanNya, yang disampaikan oleh malaikat Jibril ‘alaihis salaam. Bahkan termasuk Bisyaroh atau berita tentang apa yang akan terjadi di masa depan sepeninggal (sesudah wafatnya) rosuululloh Muhammad (atau Ahmad) - shollollohu ‘alaihi wa sallam - yang bahkan - maa syaa Allaah - satu per satu memang terjadi, dibuktikanNya. Misalnya mengenai akan adanya gedung-gedung tinggi di jaziroh Arabia (kini kita lihat di Kuwait, Qatar, Oman, UEA, Saudi, setidaknya), perang-perang utama (di Syam (Palestina, Suriah, Libanon, Yordania), di Iraq, di Yaman, setidaknya), Riba yang memang menggurita, Zinah yang jadi mudah, Khamr yang ditawarkan dengan berbagai muslihat bentuk, beredarlah beraneka kebohongan dan kecurangan, adanya Ruwaibidhoh (ornag bodoh yang menguasai urusan masyarakat-umat, memerintah), adanya Ulama Suu' (orang kira dia adalah ulama namun sebenarnya adalah orang penyesat, perusak), adanya pengkhianatan-kecurangan yang meluas, kaum penjaga kemananan (penegak hukum, macam polisi, jaksa, hakim, dsb) yang malahan dimurkai Allaah karena mereka adalah penjahat berselubung, dll. Termasuk bahwa sepeninggal rosuululloh Muhammad (atau Ahmad) - shollollohu ‘alaihi wa sallam - akan ada Bid’ah. Yang Bid’ah ini, justru menimbulkan perpecahan, firqoh-firqoh, aliran-aliran, hingga - sesuai hadits - akan ada puluhan, 73 golongan yang semuanya mengaku sebagai penganut, pelaksanan ajaran Islaam yang paling benar! Namun 72 di antaranya salah, dan (berisiko) masuk (atau sementara akan di) Neraka! Hanya satu yang benar-benar selamat, yakni yang benar-benar murni mengikuti, dan menjalankan ajaran Muhammad (atau Ahmad) - shollollohu ‘alaihi wa sallam - yang diajarkan kepada para Shahabah Nabi (Sahabat Nabi), yang lalu diteruskan ke generasi Tabi’iin, dan ke generasi Tabi’ut Tabi’iin, yang 3 generasi mereka ini masih dijamin Allaah sebagai yang terbaik, terbenar. Dan selamatlah siapapun yang mengikuti mereka. Yang di masa menjelang Akhir Jaman ini, memang diberitahukan kepada kita melalui Hadits, bahwa yang menegakkan As Sunnah - yang dapat diperincikan menjadi banyak aspek di hal ibadah, manajemen, hukum, sosial, ekonomi, politik, bisnis, keamanan, pertahanan, dll. - akan macam "menggenggam bara api", namun juga akan menerima balasan setara 50 kali lipat para Shahabah Nabi! Mari kita lihat, pelaksanaaannya di Nusantara. Diketahui, dan sudah diverifikasi, Sumatra menerima Islaam lebih dulu daripada Jawa. Sebelum masa Wali Songo di Jawa. Bahkan penelitian terakhir, 'versi islaam' yang masuk ke Sumatra, sudah sejak masa rosuululloh Muhammad (atau Ahmad) - shollollohu ‘alaihi wa sallam - belum wafat, masih beramar ma'ruf nahi munkar, masih berda'wah. Dan diketahui pula, pengaruh serta kekuatan Geopolitik penguasa Jawa di masa silam - ahkan kiranya berisaa sampai kini - dikenal sarat akan legenda, mitos, simbolisme, cerita rakyat, kepercayaan, sangkaan, dsb. Sementara Takhayyul, Bid'ah, Khurofat, biasanya berkaitan dengan legenda, mitos, simbolisme, cerita rakyat, kepercayaan, sangkaan, dsb. Termasuk sampai di Nusantara yang pernah mengalami masa dominasi Animisme, Dinamisme, Buddha, Hindu, dst. Perjuangan Wali Songo Sejak dulu, di kalangan Wali Songo, tim para da’i yang berda’wah di Jawa, yang dikenal dikirim sebagai utusan Kerajaan Islaam Turki Utsmaniyyaah untuk syi'ar Islaam terbagi menjadi dua kelompok, yakni: (1) Golongan Putihan, yang menda’wahkan Islaam, Tawhiid, yang murni dengan pemahaman standar (manhaj) sesuai kaum Salafush Sholih (para Sahabat Nabi, para Tabi’iin, para Tabi’ut Tabi’iin, dan para pengikut mereka, termasuk Imaam Madzhab Yang Empat. (2) Golongan Abangan, yang masih berupaya ‘memutar’, membungkus da’wah murni Tawhiid, dengan mengubah budaya lokal Jawa atau Kejawen (yang sebenarnya adalah masih terpengaruh Dinamisme, Animisme, Simbolisme, Hindu, Buddha, dsb.) bertahap. Dan konon, dalam bahasa dan kebudayaan Jawa, kota Jombang di Jawa Timur, daerah asal atau pusat salah-satu organisasi massa Islaam di Nusantara bernama Nahdlatul Ulama (NU) yang berdiri sejak tahun 1926 Masehi, adalah berasal dari gabungan kata "Ijo" (hijau), sebagai lambang 'versi Sufi-mistikus' dari Islaam, dan "Abang" (merah) sebagai lambang kebudayaan Jawa yang bertanah merah "lemah abang". Maka ada dokumen sejarah Wali Songo yang berjudul "HET BOOK VAN BONANG" di perpustakaan Leiden, di negeri Kerajaan Belanda. Ditulis oleh Sunan Bonang pada abad XV Masehi, yang berisikan tentang ajaran-ajaran Islaam, dan yang berkaitan dengannya. Di antaranya, ada yang menarik di dalamnya, menceritakan tentang kebijakan Sunan Ampel yang memperingatkan Sunan Kali Jogo yang dikenal masih melestarikan 'Selamatan Jawa (Kejawen)'. ”Jangan ditiru perbuatan semacam itu, karena termasuk Bid’ah”, demikianlah nasihat Sunan Ampel yang dianggap senior dari jajaran tim Wali Songo tersebut, ayah dari Sunan Giri dan anak dari Maulana Malik Ibrahim. Sunan Kali Jogo menjawab, “Biarlah nanti generasi setelah kita, ketika Islaam telah tertanam di hati masyarakat, yang akan menghilangkan budaya Tahlilan itu.” Demikian. Siapa di antaramu yang mau meneruskan perjuangan pemurnian pelaksanaan Islaam di Jawa-Nusantara ini? Lanjutkanlah, jika kau mengaku mengagumi, mengikuti, mencintai Wali Songo. Dalam buku "Kisah Dan Ajaran Wali Songo" yang ditulis H. Lawrens Rasyidi dan diterbitkan Penerbit Terbit Terang, Surabaya, juga mengupas panjang-lebar mengenai masalah ini. Kelompok 'pecahan' Wali Songo yang dikenal sebagai kelompok kaum ‘Abangan’, macam Sunan Kali Jogo, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati dan Sunan Muria, berbeda pandangan mengenai menyikapi adat-istiadat sisa Kejawen itu, dengan Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Drajat yang dikenal sebagai: kaum ‘Putihan’. Sunan Kali Jogo mengusulkan agar adat-istiadat lama seperti Selamatan (termasuk Selamatan Kematian), bersaji atau Sesajen, Wayang dan Gamelan dimasuki rasa keislaaman. Sunan Ampel berpandangan lain: “Apakah tidak mengkhawatirkannya di kemudian hari bahwa adat-istiadat dan upacara lama itu, nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi Bid’ah?” Sunan Kudus menjawab beliau, bahwa ia mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari ada yang menyempurnakannya (hal 41, 64). Demikian. Siapa di antaramu yang mau meneruskan perjuangan pemurnian pelaksanaan Islaam di Jawa-Nusantara ini? Lanjutkanlah, jika kau mengaku mengagumi, mengikuti, mencintai Wali Songo. Di keterangan lain, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati dan terutama Sunan Giri berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Islaam secara murni , baik tentang aqidah maupun ibadah. Dan mereka menghindarkan diri dari bentuk Sinkretisme/mencampurkan, memadukan ajaran Hindu dan Budfha dngn Islam. Tetapi sebaliknya Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Kalijaga mencoba menerima sisa-sisa ajaran Hindu dan Budha di dalam menyampaikan ajaran Islam. Mencampurkannya. Sampai saat ini budaya itu masih ada di masyarakat kita, seperti Sekatenan (Syahaadatain), Ruwatan, Sholawatan, Tahlilan, Nujuh Bulanan dll. Sumber: Abdul Qadir Jailani, "Peran Ulama dan Santri Dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia", halaman 22-23, Penerbit P. T. Bina Ilmu. Salah satu catatan menarik yang terdapat dalam dokumen “Het Book van Bonang” itu adalah peringatan dari Sunan Bonang kepada umat untuk selalu bersikap saling membantu dalam suasana cinta-kasih, dan mencegah diri dari kesesatan dan Bid’ah, sebagai berikut: “Ee … mitraningsun! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah.” Artinya: “Wahai saudaraku … Karena kalian semua adalah sama-sama pemeluk Islam maka hendaklah saling mengasihi dengan saudaramu yang mengasihimu. Kalian semua hendaklah mencegah dari perbuatan sesat dan Bid’ah.” Dokumen ini adalah sumber tentang Wali Songo yang dipercayai sebagai dokumen asli dan otentik, yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda. Dari dokumen ini telah dilakukan beberapa kajian oleh beberapa peneliti independen. Di antaranya thesis dari Dr. Bjo Schrieke tahun 1816, dan Thesis Dr. Jgh Gunning tahun 1881, Dr. Da Rinkers tahun 1910 , dan Dr. Pj Zoetmulder Sj, tahun 1935. Demikian. Siapa di antaramu yang mau meneruskan perjuangan pemurnian pelaksanaan Islaam di Jawa-Nusantara ini? Lanjutkanlah, jika kau mengaku mengagumi, mengikuti, mencintai Wali Songo. Apalagi jika mengaku mengagumi, mengikuti, mencintai rosuululloh Muhammad (atau Ahmad) - shollollohu ‘alaihi wa sallam - yang jelas tidak pernah mengajarkan dan melakukan itu semua. Tinjauan Islaam Dan Ilmu Perbandingan Agama Mengenai ‘Tahlilan’ dan Yang Berkaitan Dalam agama Hindu ada semacam 'syahadat' keyakinan yang dikenal dengan Panca Sradha (Lima Keyakinan). Lima keyakinan itu meliputi percaya kepada Sang Hyang Widhi, Roh leluhur, Karma Pala, Samskara, dan Moksa. Dalam keyakinan Hindu roh leluhur (orang mati) harus dihormati karena bisa menjadi dewa terdekat dari manusia [Kitab Weda Smerti Hal. 99 No. 192]. Selain itu dikenal juga dalam Hindu adanya Samskara (menitis/reinkarnasi). Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 yang berbunyi: “Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu. Dalam buku media Hindu yang berjudul “Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal” karya Ida Bedande Adi Suripto, ia mengatakan: “Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu.” Di dalam kitab Samawedha Samhita (kitab ajaran umat Hindu) buku satu, bagian satu, hal.20 yang berbunyi: "Purwacika prataka-prataka pramoredya rsi barawajah medantitisudi purmurti tayurwantara mawaeda dewata agni candra gayatri ayatna agna ayahi withaigrano hamyaditahi liltastasi barnesi agne". Yang artinya: "Lakukanlah pengorbanan pada orangtuamu dan lakukanlah kirim doa pada orangtuamu di hari pertama (1), ketiga (3), ketujuh (7), empat puluh (40), seratus (100), mendak pisan, mendak pindo". Di dalam prosesi menuju alam nirwana menghadap ida sang hyang widhi wasa mencapai alam moksa, diperintahkan untuk selamatan atau kirim do’a pada 1 harinya, 2 harinya, 7 harinya, 40 harinya, 100 harinya, mendak pisan, mendak pindho, nyewu (1000 harinya). Telah jelas bagi kita pada awalnya hitungan hari macam ajaran ini berasal dari agama Hindu, selanjutnya umat islam di pulau Jawa, mulai memasukkan ajaran-ajaran islam dicampur kedalam ritual ini. Menjadi Sinkretisme (pencampur-adukan hal agama), Bid'ah! Disusunlah rangkaian wirid-wirid dan doa-doa serta pembacaan Surat Yaa Siin kepada si mayit dan dipadukan dengan ritual-ritual selamatan pada hari ke 7, 40, 100, dan 1000 yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Yang bahkan antara satu buku Yaa Siinan dengan lainnya, sampai ada bermacam-macam versi! Yang dapat pula seenak kehendak, seenak hati si pelakunya. Belum lagi makan-makan dan 'amplopan' mengikutinya. Dan lain-lain. Di Nusantara, ini tidak dilakukan warga Muhammadiyah (1912) Al Irsyaad (1914), Persis (1923), seluruh atau sebagian besar warga DDII (1967), Hidayatullah (1974), Wahdah Islamiyah (1988), HASMI (2005), Puldapii (2017), dll. Dan jelas sekali tidak pernah diajarkan, dilakukan rosuululloh Muhammad - shollollohu 'alaihi wa sallam - dan semua Ahlul Baitnya, semua Sahabat Nabi, rodhiyollohu 'anhum. Di masa itu. Juga tidak dilakukan para Tabi'iin, para Tabi'ut Tabi'iin. Termasuk para Ahlu Bait Nabi yang generasi para murid mereka. Tidak dilakukan Imaam Yang Empat (Imaam Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, Ahmad bin Hanbal). Tidak dilakukan semua murid Imaam Yang Empat. Tidak ditemui di masa kerajaan Islaam Daulah Islaamiyyaah Umayyah, Abbasiyyaah, Mamluk, Sholahudin Al Ayyubi, Turki Utsmaniyyaah, dst. Baru ditemukan di Jawa. Dan tidak pula dilakukan mayoritas umat Islaam dunia, misalnya di negara Arab Saudi, Oman, Yaman, Qatar, Kuwait, UEA, Mesir, Pakistan, Tajikistan, Turkistan, Turkmenistan, Uzbekistan, Kazakhstan, Bosnia-Herzegovina, Kroasia, Inggris, Amerika, Jerman, dll. Maka, tega kah engkau membiarkan masyarakat Jawa tetap demikian? Keadaan semakin kompleks, karena kaum Jawa ini, dengan 'Kejawaannya' (Kejawennya) sudah menyebar pula, terutama sejak kebijakan Transmigrasi sejak masa Orde Baru. Yang herannya, sebagiannya tetap tak mau belajar. Meneruskan kebiasaan saja! Kebiasaaan bapaknya, ibunya, kakeknya, nenek-moyangnya. Tak perduli bahwa tak ada satu pun dalil yang menjamin kebenaran kebiasaan itu! Jadi, tega kah engkau membiarkan masyarakat Jawa - dan yang terpengaruh olehnya - tetap demikian? Sedangkan sudah ada jaminan, bahwa Bid'ah memang sesat, dan kesesatan akan berujung ke Neraka, yang di Dunia saja, ini akan menimbulkan 72 firqoh sesat dan memang akan ke Neraka pula? Kalau anda sehat dalam berislaam, tentu jawaban anda: "Tidak!" Justru karena Islaam adalah rahmatan lil 'aalamiiin, maka segala kemungkaran, dalam perintah wajibnya Amar Ma'ruf Nahi Munkar, maka segala bentuk Takhayyul, Bid'ah, Khurofat, hingga segala kejahatan macam kemaksiatan Politik, Hukum, Ekonomi, Bisnis, Manajemen, Sosial, Budaya, Keamanan, dsb., harus: Dikembalikan seusai kemauanNya. Atau keselamatan tidak akan dijamin olehNya! Itu, kalau kamu benar-benar mencintai Allaahmu! ➖➖➖➖➖➖ *🌿MASIH PERCAYA KEBOHONGAN SYI'AH DAN MUSUH ISLAM BAHWA GOLONGAN WAHABI ITU ADA?* Sungguh menyedihkan bahwa sebagian kaum Muslimiin Indonesia larut turut dalam kesalahan bahkan kebodohan, akibat tak belajar benar. Mau saja dihasut dengan kesalahan sebut dari kaum Inggris jaman dulu, yang lalu dimanfaatkan Syi'ah, Komunis, Mistikus, musuh-musuh Islaam untuk memecah belah sesama Ahlus Sunnah. Namun sudah banyak pula yang sadar bahwa SYI'AH SEDANG MENCOBA MENDEKATI MASSA NU YANG BANYAK ITU, melalui rayuan seakan-akan banyak ritual 'khas' NU, adalah SAMA dengan ritual Syi'ah. Ini ada benarnya, walaupun tidak sepenuhnya. Karena NU juga mengadopsi, membolehkan Sufi. Sedangkan Sufi, membesar bersamaan dengan Syi'ah, utamanya di masa kekholifahan Abbasiyyaah! Mereka ada saling mempengaruhi, satu sama lainnya. Tetapi ... NU generasi pertama (1926), ADALAH BANYAK KESAMAANNYA dengan Muhammadiyah (1912), Al Irsyaad (1914), dan Persatuan Islam/Persis (1923). Tidak seperti mayoritas kaum Nahdliyyiin kini. Bahkan fatwa dari KH Hasyim Asy'ary tegas MELARANG NAHDLIYYIIN MENDEKATI, MEMPELAJARI, DAN MENGIKUTI SYI'AH. Satu hal yang ironis kini, karena KH Said 'Aqil Siradj (SAS) Ketum PB NU, adalah dikenal sebagai pendukung Syi'ah dan Liberalisme kini! Jadi ... Sudah lama dibahas - juga di media ini - mengenai betapa bodohnya dan tidak mungkinnya sebutan, dan ada golongan 'Wahabi'. Berdasarkan keterangan pakar Tata Bahasa, 'ulama 'Aqidah Ahlus Sunnah, dan Tarikh (Sejarah). Termasuk dari Buya HAMKA Ketua Umum MUI pertama, dan Habib Ahmad bin Zen Alkaff, dan banyak 'ulama serta pakar sedunia. Itu adalah kesalahan sebut Inggris terhadap kaum Muslimiin, Ahlus Sunnah Wal Jama'ah di jazirah Arabia Tengah (kini sebagian besarnya menjadi Arab Saudi), dan kesalahkaprahan ini lalu dimanfaatkan Syi'ah untuk mengadu-domba Muslimiin, bahkan dengan berbagai tambahan kebohongan. 🔶Dalam tinjauan Tata Bahasa Arab, karenanya, TIDAK MUNGKIN disebut 'Wahabi' karena sebutan ini secara gegabah dan salah dinisbatkan kepada (Syaikh) MUHAMMAD bin 'Abdul Wahhab At Tamimi (dari Bani Tamim, Quraisy). Beliau seorang guru agama Ahlus Sunnah wal Jama'ah, dengan mengikuti pemahaman (manhaj) kaum Salafush Sholih/kaum Pendahulu Yang Salih (*) yang mengajarkan semua sistem Madzhab Fiqh, namun lebih menyenangi Madzhab Hanbali (dan ini wajar saja dan diperbolehkan dalam Islaam). Keterangan: (*) Mereka adalah seluruh 124.000 nabi dan rosul beserta ummah/muridnya masing-masing. Khususnya Rosuululloh Muhammad - shollollohu 'alaihi wasallam - dan 3 generasi pertama murid beliau yang dijamin terbaik, yakni generasi Shahabah Nabi, generasi Tabi'iin, dan generasi Tabi'ut Tabi'iin. Nama beliau sendiri tentu saja adalah "Muhammad", dan nama ayahnya, karenanya, adalah 'Abdul Wahhab At Tamimi (artinya, dari keluarga Quraisy terhormat Bani Tamim). Maka seharusnya secara Tata Bahasa, pengikutnya disebut "Muhammadi" atau "Muhammadiyyah". Bukan "Wahhabi". 🔶Lebih lagi, dalam tinjauan standar 'Aqidah Islaamiyyah, TIDAK MUNGKIN mereka disebut 'Wahabi' atau 'Wahhabi', karena nama "Al Wahhab" itu adalah nama ALLAH. Dan secara 'aqidah, manusia tidak dibenarkan memakai nama ALLAH: "Al Wahhab" (kecuali dengan didahului kata "Abdul" atau "hamba dari"). Dan karenanya - walaupun artinya bagus - tidak wajar pula menyebut Muslimiin sebagai "Wahhabi" (Pengikut ALLAH Al Wahhab). 🔶Dan dalam tinjauan Tarikh (Sejarah), TIDAK MUNGKIN pula pengikut Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab At Tamimi disebut 'Wahabi', karena yang disebut demikian adalah pengikut 'Abdul Wahhab bin Rustum, seorang Khowarij (ekstrimis) di Abad III-IV Hijriyyah. Sementara Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab At Tamimi tersebut hidup di Abad XII-XIII Hijriyyah, dan adalah seorang guru agama Ahlus Sunnah wal Jama'ahbiasa. Tetapi ada usaha mengesankan keduanya adalah sama. Utamanya untuk membangun propaganda kebencian terhadap Ahlus Sunnah, terhadap Madzhab Hambali, terhadap Arabia/Arab Saudi. Biasanya dari agen-agen laten atau terbuka dari kalangan Syi'ah, Orientalis, Komunis, dll., dan yang terpengaruh oleh mereka, sadar atau tidak. Dan ingatlah ... 🔶Di Nusantara/Indonesia, sejak dulu yang dimaki sebagai Wahabi atau Wahhabi dengan SEENAKNYA adalah: 🔹Imam Bonjol dan semua Muslimiin Minangkabau (Sumatra Barat) yang pada dasarnya biasanya adalah bergabung di "Muhammadiyah" (setelah organisasi Islam "Muhammadiyah" berdiri). 🔹Muhammadiyah, organisasi Islam yang TERTUA di Nusantara dan masih ada (berdiri di tahun 1912 dengan akta Notaris resmi di tahun 1914 di Yogyakarta), dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. 🔹Al 'Irsyaad Al Islamiyyah (1914 dan resmi di 1915 di Surabaya) dan kaum jama'ah keturunan Arab non 'Alawiyyiin/Non Habaib. 🔹Persatuan Islam/Persis (1923 di Bandung) 🔹Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia/DDII (1967 di Jakarta) 🔹Hidayatullah (1973) 🔹Wahdah Islamiyah (1988) 🔹HASMI (2005) 🔹Buya HAMKA, Ketua Umum MUI pertama, tokoh Muhammadiyah, serta Pujangga/Sastrawan nasional. 🔹Syaikh DR. Muhammad Natsir, Perdana Menteri RI pertama, Pahlawan Nasional RI, dan pendiri DDII. 🔹Syaikh Ahmad Hassan, tokoh Persis dan salah satu guru Bung Karno. 🔹Bung Karno, aktivis Muhammadiyah, anggota Muhammadiyah sampai meninggalnya, dan Proklamator RI, Presiden I RI. 🔹Bung Hatta, aktivis Muhammadiyah dan Proklamator RI, Wakil Presiden I RI. 🔹Ustadz dan Panglima Besar Jenderal Sudirman, warga Muhammadiyah dan gerakan kepanduannya. 🔹Syaikh Haji Agus Salim. 🔹Kaum muslimiin Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang berusaha meneladani kaum Salafush Sholih (yakni Rosululloh shollollohu 'alaihi wasallam dan para Sahabat Nabi lalu para Tabi'iin dan lalu para Tabi'ut Tabi'iin) yang DIJAMIN ALLAH sebagai yang terbaik, sebagai Salafiyyuun. Dll. 🌿🔶Hanya karena mereka tidak mau memperingati kematian dan makan-makan di hari hitungan Hindu (hari ke 1, 3, 7, 40, 100, 1000), tetap ziarah kubur namun tidak mau mengkeramatkan kuburan dan beribadah di sana, tidak selalu berqunut kecuali ada musibah, tidak membaca basmalah dengan jahr saat Al Fatihah dan Surah2 lain, tidak merayakan Maulid karena ini dari kebiasaan Syi'ah, tidak Haul, tidak berdzikr kencang-kencang juga berjama'ah apalagi memakai musik, tidak suka Mistik, tidak menyanyi Barzanji, biasanya berjenggot, biasanya bercelana cingkrang tidak isbal, berhijab syar'i, Anti Syi'ah, Anti Komunis, Anti Penjajahan Kolonialisme, Anti Yahudi Zionis, Pro Palestina, Pro Syari'ah, dll.❗ Dimaki sebagai Wahabi❓ Padahal mungkin saja merekalah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang lebih sejati, in syaa Allah. ☺🌸🌺🌿🌿🌿🌿
Selasa, 13 September 2022
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 comments:
Posting Komentar